Kambing, kambing,
kambing,
setiap saat negeri ini selalu perlu
memerlukan yang namanya kambing hitam.
Semua orang kenal kambing, sekalipun sering keliru dengan saudara dekatnya
domba. Namun mereka yang sudah pernah belajar sedikit tentang peternakan akan
tahu perbedaanya, punya jenggot bagi yang jantan dan ekornya mencungak keatas
yang tampak jelas apabila dilihat dari belakang, tertutup bulu licin tersram
minyak alami dengan bau khas menyengat yang selalu mengkilatkannya.
Seperti halnya domba, ada yang berbulu coklat, putih ataupun hitam. Bahkan
yang terakhir memegang rekor karena jumlahnya dibantu dengan antrian kambing
jadi-jadian.
Kambing termasuk makhluk yang suka beramal. Selalu mengikhlaskan namanya
dicatut pihak manapun, mulai sesama hewan sampai manusia yang sering mengaku
makhluk ciptaan Tuhan sebagi makluk paling sempurna sekalipun paling doyan menurunkan derajat, atau mungkin
hanya menunjukan jiwa sosial mereka dengan merndahkan diri sebagai rasa
toleransi terhadap makhluk lain?
Keistimewaan kambing memang patut dicatut. Serat kenyalnya patut dipuji
sekalipun banyak yang harus menghindari anjuran Bu Dokter, kelincahan dan kelihaiannya
panjat-memanjat patut di acungi jempol untuk kaki empat sebesar ukuran
badannya, demikian juga kemampuan si jenggot nongkrong di pundak lawan jenis
sering membuat manusia risih tapi iri dan kepincut ingin juga nyatut dan
menirunya, sekalipun belum pernah di beritakan bahwa pria mampu menyaingi
kehandalan bandot yang sanggup main 32 babak sehari semalam.
Kadang ada untungnya dicatut, terutama oleh pengipas bara. Sate kambing
yang banyak dijual di seantero Jakarta misalnya, sekalipun di etalase disertai karkas bergantung plus kepala kambing lengkap dengan
jenggotnya, bagi yang mengerti akan segera tahu kalo yang dimakan tidak
mengandung minyak sengak khas kambing. Memang tidak semua begitu, namun banyak
karkas yang bergantung dan daging cacah yang ditusuk-tusuk itu memiliki domba
yang tentu berbeda dengan judul cerita.
Manusia Indonesia lebih sering lagi mencatut karena propesi sebagai plagiat masih cukup terbuka lebar.
Apalagi kambing tidak pernah mendaftarkan hak kehitamannya di Biro Hak Paten
swasta yang mulai bermunculan. Tidak heran yang pencatut kambing lebih banyak
yang bukan mamaliasekalipun jagoannya sama
berjenggot, namun jari kaki demapnnya lebih sempurna sekalipun yang sebelah
kiri kebahagian menyetuh ampas buangan. Tetapi sering merasa beberapa tingkat
lebih tinggi sekalipun tidak hanya insting, lebih suka nyate walaupun
sekali-kali juga disate sesamanya dan berbagai keutamaan lain yang lebih sering
hanya dikumandangkan ayat suci dari pada diamalkan sehingga tidak sedikit
martabat mereka yang terlaknat daripada mahluk yang bernama kambing.
Sebagimana yang dibanggakan, mahluk yang sempurna tentu tidak sembarang
catut. Tidak mengherankan kalau dalam aliran masa kehidupan sering bermunculan
kambing-kambing pilihan. Bukan kambing sembarang kambing, hanya kambing
hitamlah yang sering jadi obyekan. Tidak jarang mereka juga terpaksa ditangkap
basah pada saat malam gulita kecebur lumpur kolam kelam penuh polutan di tengah
hutan nan tanpa kebutuhan.
Kambing-kambing dalam berbagai warna banyak bermunculan, sedari zaman nabi
Adam masih sendiran. Istimewahnya yang hitam lebih dominan dari hari ke hari.
Sengkon dan Karta adalah dua makhluk mulia yang sempat menderita setelah
lelah melewai lika liku laki-laki perjalanan panjang yang harus dilalui dan
akhirnya terpaksa pasrah disihir menjadi kambing hitam. Makan, minum dan tidur
gratisdi hotel prodeo. Mereka berdua adalah bandot jadi-jadian yang sengaja
dibikin untuk menyelamatkan yang mau selamat sekalipun mesti salah alamat,
meratap di balik terali besi yang sama sekali bukan atraksi ilusi David
Copperfield.
Manusia memang suka kambing, terutama yang hitam. Tidak mengherankan kalau
masyarakat pun banyak yang rela dan tidak sedikit yang suka bila gadis cantik
pujaannya disulap menjadi kambing hitam. Yurike Prastika yang sedang praktek
sempat berubah kulit sebagai tumbal produsr film tanpa teks yang sudah
kehabisan ide cerita sampai-sampai kualat gara-gara berani nyerempet kehidupan
sangat pribadi Nyi Roro Kidul, senyum ceria Ria Irawan juga sempat tak lagi menawan
ketika sempat diberitakan akan tega meninggalkan pengemar karena ingin hidup di
bulan namun pesawatnya tersangkur.
Beruntung masih nyangkut di bulan-bulanan sebagai imbas seorang kawan. Banyak lagi cewek lain yang telanjur di jerat
sesama dalam kandang embek, termasuk Zarimah yang jari-jemari gemulainya
lengkap lima. Bahkan yang disebut terakhir ini, sekalipun banyak yang
mengelarinya Sang Ratu tetap saja harus menikmati hari-hari berjubah biru di
luar shooting sinetron atau ... akibat sulap Mr. Robin yang salah sasaran?
Namun karena kelamnya malam, tidak semua kambing hitam yang terjerat harus
sekarat seperi Karta ataupun mendekam lama di kandang situmbin seperi Zarima.
Edy Tanzil adalah contoh kambing yang sangat lihai melumuri tubuhnya dengan
berbagai jenis dan merek minyak-minyakan sehingga bukan hanya baunya yang sudah
tidak karuan tetapi juga licin bulu
alaminya bukan main dan dengan mudah aji
belut putih warisan titisan Dewa Korup diterapkannya.
Kepopulerannya pun lenyap dan senyap bersama sirnahnya harta negara kaya
raya ini dan cukup dengan kalimat sim
salabim berubah wujudlah semuanya itu menjadi beban hutang rakyatnya.
Kambing hitam kadang bikin repot pandangan, Tan Hok Ling yang sekarang
berjubah putih dianggap sebagai biang dari massa yang mengamuk, menjarah dan
membakar hangus griya Oom Liem, kelihatan hitam. Apalagi dunia yang dulu
diguleti Anton Medan itu memang hitam.
Kambing-kambing hitam berkeliaran. Kambing hitam pun bukan hanya hak milik
para madani, apalagi belum dipatenkan di paramadina. Kasus penculikan aktivis
meluluh lantakkan karir sang kambing hitam yang berbintang-bintang. Demikian
juga penembakan mahasiswa Trisakti diawal gejolak reformasi juga tidak mau
ketinggalan kereta. Sate kambing bukan hanya idola orang sipil, kelezatannya
bisa dinikmati semua orang. Kecuali bagi yang sudah di-warning si jantung-mati.
Sejak dulu kambing tidak pernah pandang bulu, kalau sudah saatnya tiba
pasti bandot akan memenuhi kewajibanya tanpa pilih-pilih. Kambing hitam pun
demikian, lebih-lebih karena memang bulunya jarang ditampakkan. Sehingga orang
nomor satupun bisa dibidiknya. Kegagalan Orde Lama misalnya sempat menghitamkan
jasa Bung Besar sekian lama, demikian juga keruntuhan masa berikutnya
melegamkan kulit Anak Desa. Bagaimana seterusnya? Mudah-mudahan tidak demikian,
sebab yang berbuat bukan kambing hitam tetapi oknum manusia yang paling demen
mengatasnamakan kambing kepada sesama, patut di curigai.
Kambing-kambing yang sebagian berbulu hitam, damai di kandang peternak,
dijual dipasar dalam tangan taoke dan
menjatuhkan leher di mata pisau jagal, sebagian sempat teriak minta tolong
dengan dengan jawaban mantap echo
dinding slaughter house.
Kambing-kambing hitam jadi-jadian pun demikian, akankah terus berkembang
atau bahkan makin jadi? Sebab paling mudah mendapatkannya sekalipun cahaya
matahari telah surup mirip lampu 5 watt, bahkan saat sudah terlalu gelap untuk
disebut kelam. Suatu peluang bisnis yang sangat menantang bagi yang suka
melanggar pantangan dan ingin berekspresi dengan pentungan.
Sekarang, di saat rumah Allah terbesar di Asia Tenggara porak-poranda
seperti judul sebuah berita sebuah harian yang terbit di Barat Sumatra, basar
harapan agar yang ditangkap bukanlah kambing hitam. Mereka hanya tahu rumput yang telah disabit
dan tidak tahu rakit-merakit dinamit apalagi sekolah BOMB yang tentunya jauh
lebih rumit.
Sudah waktunya manusia menunjukan
jati diri, tanpa harus malu-malu sehingga tega menutupinya dengan atas nama
kambing hitam yang terhormat sekalipun perilakunya kadang kelewat jahat. Tidak
perlu merendahkan diri sampai mengibaratkan badan hina bak bintang apalagi
direndahkan, dengan berbagai amcaman
pula!