Belasan tahun lalu, penumpang mencari
kenyamanan perjalanan.
Sekarang pun sama. Toch, dari dulunya juga sebenarnya seperti
itu kok.
”LORENA memang sedang naik daun !” Ujar juru parkir tak resmi di halaman
rumah makan Umega Gunung Medan ketika
menyaksikan jubelan di pintu bus yang berbanding terbalik dengan penumpang yang
baru turun dari Super Executive-nya ANS.
Angkutan umum yang bermarkas di Tajur dekat Kota Hujan itu sebenarnya baru
seumur jagung menjelajahi Ranah Minang, tetapi karena keberadaannya dengan AKAP
yang selama ini merajai jalan Lintas Andalas maka dalam waktu yang relatif singkat telah menjadi legenda tersendiri.
Makin tenar berkat promosi dari mulut ke mulut para konsumen yang menikmati
pelayanannya ataupun para pendengar cerita yang tidak pernah mau kalah untuk
dapat lebih banyak lagi bercerita.
Tidak mengherankan kalau kepopuleranya mampu menembus ruang dan waktu.
Bahkan dalam sebuah rumah tua di Piliang Labuah – Lima Kaum – Tanah datar, para
ibu setengah abad-an tak mau ketinggalan membicarakan kenyamanan yang didapat
bila ke Jakarta dalam pelukan LORENA. Padahal di Batusangkar sama sekali tidak
terdapat billboard perusahaan bus tersebut, bahkan di terminal antar kotanya
sekalipun. Untuk mendapatkan tiketnya harus ke Padang atau terminal Solok yang
jaraknya tidak dapat dibilang dekat.
Pelayanan AKAP dengan motto Sabar-Sopan-Senyum ini telah mengikis anggapan
awam, seperti obrolan para awak bus Sumatera Barat yang sangat yakin dan
terpercaya bahwa para pelanggan fanatiknya tidak akan kepincut ke ain hati.
Bila dititik lebih jauh, maka keberhasilan bus bergaya interior Italia ini
terletak pada trik-trik pelangganya yang dapat mengubah perjalanan panjang
menyusuri kepadatan labar jalan bebas hambatan sampai ke pelabuhan dan
liku-liku Bakauheni – Padang yang membosankan menjadi terasa nyaman.
Akankah AKAP urang awak terancam?
Tidak perlu merasa demikian, bahkan
kedatangan competitor dari tanah seberang
ini hendaknya menjadi pemicu untuk terus berbenah diri, mungkin selama ini ada
yang terlupakan diri sebagai raja lapangan. Bahkan tergodanya urang awak kepada warga baru itu
hendaknya menjadi bahan koreksi yang selama ini mereka selalu dapati.
Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini bus-bus lokal memang sudah berusah
menyesuaikan diri dengan kehendak konsumen yang semakin menyadari arti sebuah
kenyamanan dalam perjalanan. Untuk dapat nyaman dalam bus ekonomi tersedia
jumbo 2-2 dengan recleaning seat dan
sedikit longgar daripada berdasarkan dalam kepadatan kursi 2-3. demikian juga
sarana penunjang seperti televisi, cassete bahkan VCD sebagaian perusahaan
neenjadikannya sebagai bahan pemikat, sekalipun lebih sering dalam perjalanan
mereka tetap membisu tak pernah menjumpai penumpang kecuali tampangnya yang
sudah tak pantas sebagai panajngan.
Tetapi apakah dalam perjalanan panjangnya mereka mendapatkan kenyamanan
yang sangat diharapkan? Banyak yang menyatakan setuju dan berkata dengan
semangat 45, ”Ya !” Tetapi tidak sedikit pengalaman menggeliti yang sangat
menarik untuk diotak-atik.
Penumpang bus biasa memang harus terbiasa kalau tumpangannya bejalan
dut-dutan dan awak bus belepotan akibat buka bengkel sepanjang jalan. Demikian
juga harus maklum kalau banyak berhenti ditengah jalan karena kondektur
menjajangkan kursi dan bangku cadangan. Soal kenyamanan, tak perlu dibayangkan
hanya bisa dirasakan.
Naik bus yang jelas-jelas memajang EXECUTIVE CLASS di kaca depannya, tidak
jarang harus terasa dieksekusi. Bahkan sakit hati dengan banyaknya penumpang
jalanan yang hanya merogoh kocek setengah harga, karena yang demikian sudah
membudaya. Kondisi armada yang tak lagi prima sering kali menjadi kendala
tambahan.
Perjalanan dengan bus SE pun sering diluar harapan, Susah Enak. Bengkel
jalan tetap kerap mewarnai. Bisa dimaklumi kalau sekedar ganti ban yang memang
tak dapat dihindarkan, tapi kalau awak bus jadi juru mesin yang belepotan?
Lebih menyedihkan kalau deru mesinya empot-empotan sehingga dijalan datar
sangat mudah ditilap bus ekonomi atau bahkan sangat menyakitkan ketika di
tanjakan dapat gilas truk tua penuh muatan. Mana tahan ....
Disamping itu keramahan awak bus yang seharusanya ditunjukan sering
dilupakan. Sehingga penumpang merupakan orang asing selama perjalanan dan harus
menyadari dengan sepenuh hati bahwa mereka hanyalah berkedudukan sebagi orang
yang menumapang pada tempat duduk yang di miliki awak bus. Wajar dong kalau
mereka sangat angkuh. Namanya juga penumpang, ya ... cuma numpang sekalipun
bayar uang! Hubunga diantra keduanya terjadi semata-mata hanya karena selembar
uang.
Sedemikian remeh arti penumpang, sehingga merekapun harus menahan hati
ketika awak bus dengan seenaknya berhenti di tengah toang yang jauh dari
perkampungan dan bongkar membongkar sepeda motor agar bisa dikemas dan masuk
dalam bagasi. Dan sekali lagi harus berbesar hati ketika mereka merakitnya
kembali di terminal tujuan sampai sepeda motor di kemudikan. Kesabaran luar
biasa, termasuk didalamnya tidak melaporkan kepada pihak berwajib tentang semua
yang disaksikan. Tanpa sadar bahwa kesabaran mereka yang berlebihan pun
sebenarnya kesabaran semu yang merupakan bagian dari tindak kriminal.
Kejadian-kejadian tak mengenakkan yang akan cepat tersebar tanpa diiklankan
ini terjawab dengan kehadiran bus dari Jawa. Awak bus berseragam yang ramah
pada setiap penumpang tanpa disertai alih profesi jadi juru bengkel jalanan.
Selain laju kendaraan dengan kondisi prima yang dapat diandalkan juga
pemberhentian hanya ditempat tertentu yang telah ditentukan. Yang paling
menentukan adalah kekonsekuenan manajemen dalam mengiklankan kelas busnya
sehinggayang dinikmati penumpang sesuai dengan yang dibayarkan.
Adegium lama mengingatkan, semut diseberang lautan jelas kelihatan
sedangkan gajah di pelupuk mata tak kentara. Demikian juga kesenyapan Terminal
Bareh yang merupakan pintu gerbang awal penyebrangan penumpang keberbagai
tujuan di Ranah Minang dan kelenggangan Terminal Lintas Andalas ketika melam
menjelang (tentu akan jauh lebih mati lagi keadaan Terminal Aie Pacah bila
nanti difungsikan lagi). Yang terbaca justru gemerlap Rawamangun sekalipun
malam telah gelap ataupun senandung malam sekitar Pulo Gadung.
Bertahun-tahun bus AKAP urang awak mencapai tujuan dalam gelap. Tidak akan
menjadi masalah kalau tujuannya Jakarta, tetapi kalau sebaliknya? Tidak ada
jalan lain kecuali harus menunggu matahari muncul kembali di lorong sepi dengan
segala resikonya atau merogoh kocek tambahan untuk menumpang tidur atau
mencarter omprengan yang bisa lebih mahal daripada ongkos ribuan kilometer
perjalanan. Padahal Jakarta – Padang dalam keadaan normal dapat ditempuh dalam
24 jam.
Kehadiran bus yang menjamin sampai ke terminal antara yang masih melayani
berbagai tujuan tentu sangat didambakan, sekalipun harus membayar di atas harga
rataan. Ironisnya, justeru pengusaha Jakarta yang terlebih dahulu membaca
peluang pasar yang demikian.
Kenyamanan yang didapakan selama dalam perjalanan sampai ke tempat tujuan
adalah dambaan setiap penumpang. Mau tak
mau AKAP urang awak pun harus berbenah bila tidak ingin ditinggalkan para
langganan. Apalagi di masa yang aan
adatang, buka hanya LORANA yang akan hadir diantara kita. Pasti akan menyusul AKAP profesional lain,
seperti KRAMATDJATI yang sudah mengintai dari Jambi dan Pekanbaru.
Tak ada salahnya belajar dari cara berbenah JUSUF SEKELUARGA yang selamat
dari kehancuran usaha AKAP JS Cirebon- Bandung-nya setelah berusaha ati-matian
untuk tampil beda dalam melayani enumpangnya.
Demikian juga SINAR JAYA yang hampir saja kejayaannya tidak bisa lagi
bersinar kalau saja manajemennya tidak merubah hauan sehingga kenyamanannya
dikenal bukan hanya diberikan keada para langganan tetapi juga menjadi milik
para awaknya.
Pengalaman lain adalah runtunya SETIA NEGARA yang sempat menjadi raja
jalanan akibat ditinggalkan para langganan setelah mereka harus berdiam diri
dalam bus yang selalu dipotong SAHABAT dari kanan dan kiri jalur tengkorak
menuju Jakarta. Demikian juga
tenggelamnya legenda SARI BUKIT MULYA dalam lenggok-gontai Cadas Pangeran yang
juga dibabat SAHABAT yang tidak mau bersahabat.
Keberhasilan manajemen SINAR JAYA, kesuksesan JUSUF SEKELUARGA menunjukkan
bahwa masih banyak cara untuk bangkit sekalipun terasa sulit dan dalam keadaan
serba terjepit. Kondisi mereka saat itu
nyarir tenggelam dari peredaran, JS hanyalah besi tua yang merayap di jalan
sangat perlahan. Para penumpangnya hanya bisa mengurut dada ketika deru SARI
BUKIT MULYA mengejek dengan kepulan asapnya.
SINAR JAA pun tidak lain dari pelengkap pembuat derita para penumpangnya
yang tidak tahu sampai tertipu atau kecewa berat tidak termuat dalam badan
WARGA BARU yang selalu menderu dan terus melaju.
Tarian lincah manajemen pulalah yag akhirnya membawa SAHABAT yag semula
jagoan merambat dan merayap sangat lambat serta tersendat-sendat menjadi raja
jalanan seanteri Jawa Barat.
Bukan berarti manajemen yang naik daun boleh lupa diri, beajar dari
sua-duka AKAP urang awak selama ini tidak dapat dihindari. Mulai dari otak-atik mesin di perjalanan
sampai angkut-mengangkut para diplomat jalanan sehingga harus menyediakan kursi
cadangan. Bahkan pemanfaatan agen-agen
perjalanan yang banyak berperan sebagi calo.
Hal terakhir sanat sulit dihindari kaena berhubungan erat dengan nasib
kocek para awak bus yang sulit tergoda untuk badoncek.
Penyakit yang menyerang kenyamanan penumpang selama dalam perjalanan ii
akan terus berupaya menggerogti, sehingga AKAP profesional bukan hanya harus
tetap melayani dengan armada yang selalu prima tetapi juga dalam penempanan
para awaknya. Dalam menebar agen pun harus
super hati-hati kecuali mau ikut-iktan membuat penumpang sakit hati.
Kalau tidak demikian, kemashuran akan segera meninggalkan. Nama besar LORENA bisa loreng dan jadi bahan
pertanyaan baru, ”LO, RE-butan NA-ikin penumpang di jalanan ?” Kalu sudah demiian, maka kenyamanan tinggalah
impian. Seperti yang terjadi pada ANS
yang didamba pelanggan agar dapat Aman Nyaman dan Sampai tujuan sesuai dengan
namanya tetapi malah tergores selalu dalam ingatan dan tidak dapat terlupakan
karena perjalanan ribuan kilometer terasa Amat Nelangsa dan Sakit hati sampai
tujuan.
Bukan berarti AKAP urang awak tidak ada yang bisa bersaing. Armada prima sebagian TRANSPORT EXPRESS yang
bisa menembus Ranah Minang ketika senja belum menjelang adalah sebuah contoh
nyata. Hadirnya PALAPA TRANSPORT pun
patut dapat acungan jempol. Bagaimana
dengan yang lain ?
Hanya bersaing dengan cara yag baiklah yang akan membuahkan hasil
terbaik. Hendaknya gaya sebuah AKAP yang
mengklain kata ”TRANSPORT” sebagai milik pribadinya seperti ermuat dalam berita
picisan tidaklah perlu terulang.
Bisa-bisa malah terkena gugatan warga Union Jack. Demikian juga pemanfaatan kolom koran untuk
menjatuhkan saingan bukanlah cara terpuji, sebaliknya merupakan tindakan yang
mat keji.
Pelaku persaingan tak terpuji tak lain adalah mereka yang tega berbuat keji
dan perlakuan mereka terhadap penumpang tidak akan berbeda. Pelaku terbaik sesungguhnya hanya akan
bersaing dengan cara yang baik pula.
Selamat bersaing...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar