Kamis, 18 September 2014

Kambing



           
           


             

Kambing, kambing,

kambing,

setiap saat negeri ini selalu perlu

memerlukan yang namanya kambing hitam.

Semua orang kenal kambing, sekalipun sering keliru dengan saudara dekatnya domba. Namun mereka yang sudah pernah belajar sedikit tentang peternakan akan tahu perbedaanya, punya jenggot bagi yang jantan dan ekornya mencungak keatas yang tampak jelas apabila dilihat dari belakang, tertutup bulu licin tersram minyak alami dengan bau khas menyengat yang selalu mengkilatkannya.

Seperti halnya domba, ada yang berbulu coklat, putih ataupun hitam. Bahkan yang terakhir memegang rekor karena jumlahnya dibantu dengan antrian kambing jadi-jadian.

Kambing termasuk makhluk yang suka beramal. Selalu mengikhlaskan namanya dicatut pihak manapun, mulai sesama hewan sampai manusia yang sering mengaku makhluk ciptaan Tuhan sebagi makluk paling sempurna sekalipun paling doyan menurunkan derajat, atau mungkin hanya menunjukan jiwa sosial mereka dengan merndahkan diri sebagai rasa toleransi terhadap makhluk lain?

Keistimewaan kambing memang patut dicatut. Serat kenyalnya patut dipuji sekalipun banyak yang harus menghindari anjuran Bu Dokter, kelincahan dan kelihaiannya panjat-memanjat patut di acungi jempol untuk kaki empat sebesar ukuran badannya, demikian juga kemampuan si jenggot nongkrong di pundak lawan jenis sering membuat manusia risih tapi iri dan kepincut ingin juga nyatut dan menirunya, sekalipun belum pernah di beritakan bahwa pria mampu menyaingi kehandalan bandot yang sanggup main 32 babak sehari semalam.

Kadang ada untungnya dicatut, terutama oleh pengipas bara. Sate kambing yang banyak dijual di seantero Jakarta misalnya, sekalipun di etalase disertai karkas bergantung plus kepala kambing lengkap dengan jenggotnya, bagi yang mengerti akan segera tahu kalo yang dimakan tidak mengandung minyak sengak khas kambing. Memang tidak semua begitu, namun banyak karkas yang bergantung dan daging cacah yang ditusuk-tusuk itu memiliki domba yang tentu berbeda dengan judul cerita.

Manusia Indonesia lebih sering lagi mencatut karena propesi sebagai plagiat masih cukup terbuka lebar. Apalagi kambing tidak pernah mendaftarkan hak kehitamannya di Biro Hak Paten swasta yang mulai bermunculan. Tidak heran yang pencatut kambing lebih banyak yang bukan mamaliasekalipun jagoannya sama berjenggot, namun jari kaki demapnnya lebih sempurna sekalipun yang sebelah kiri kebahagian menyetuh ampas buangan. Tetapi sering merasa beberapa tingkat lebih tinggi sekalipun tidak hanya insting, lebih suka nyate walaupun sekali-kali juga disate sesamanya dan berbagai keutamaan lain yang lebih sering hanya dikumandangkan ayat suci dari pada diamalkan sehingga tidak sedikit martabat mereka yang terlaknat daripada mahluk yang bernama kambing.

Sebagimana yang dibanggakan, mahluk yang sempurna tentu tidak sembarang catut. Tidak mengherankan kalau dalam aliran masa kehidupan sering bermunculan kambing-kambing pilihan. Bukan kambing sembarang kambing, hanya kambing hitamlah yang sering jadi obyekan. Tidak jarang mereka juga terpaksa ditangkap basah pada saat malam gulita kecebur lumpur kolam kelam penuh polutan di tengah hutan nan tanpa kebutuhan.

Kambing-kambing dalam berbagai warna banyak bermunculan, sedari zaman nabi Adam masih sendiran. Istimewahnya yang hitam lebih dominan dari hari ke hari.

Sengkon dan Karta adalah dua makhluk mulia yang sempat menderita setelah lelah melewai lika liku laki-laki perjalanan panjang yang harus dilalui dan akhirnya terpaksa pasrah disihir menjadi kambing hitam. Makan, minum dan tidur gratisdi hotel prodeo. Mereka berdua adalah bandot jadi-jadian yang sengaja dibikin untuk menyelamatkan yang mau selamat sekalipun mesti salah alamat, meratap di balik terali besi yang sama sekali bukan atraksi ilusi David Copperfield.

Manusia memang suka kambing, terutama yang hitam. Tidak mengherankan kalau masyarakat pun banyak yang rela dan tidak sedikit yang suka bila gadis cantik pujaannya disulap menjadi kambing hitam. Yurike Prastika yang sedang praktek sempat berubah kulit sebagai tumbal produsr film tanpa teks yang sudah kehabisan ide cerita sampai-sampai kualat gara-gara berani nyerempet kehidupan sangat pribadi Nyi Roro Kidul, senyum ceria Ria Irawan juga sempat tak lagi menawan ketika sempat diberitakan akan tega meninggalkan pengemar karena ingin hidup di bulan namun pesawatnya tersangkur.  Beruntung masih nyangkut di bulan-bulanan sebagai imbas seorang kawan.  Banyak lagi cewek lain yang telanjur di jerat sesama dalam kandang embek, termasuk Zarimah yang jari-jemari gemulainya lengkap lima. Bahkan yang disebut terakhir ini, sekalipun banyak yang mengelarinya Sang Ratu tetap saja harus menikmati hari-hari berjubah biru di luar shooting sinetron atau ... akibat sulap Mr. Robin yang salah sasaran?

Namun karena kelamnya malam, tidak semua kambing hitam yang terjerat harus sekarat seperi Karta ataupun mendekam lama di kandang situmbin seperi Zarima. Edy Tanzil adalah contoh kambing yang sangat lihai melumuri tubuhnya dengan berbagai jenis dan merek minyak-minyakan sehingga bukan hanya baunya yang sudah tidak karuan tetapi juga licin bulu alaminya bukan main dan dengan mudah aji belut putih warisan titisan Dewa Korup diterapkannya.

Kepopulerannya pun lenyap dan senyap bersama sirnahnya harta negara kaya raya ini dan cukup dengan kalimat sim salabim berubah wujudlah semuanya itu menjadi beban hutang rakyatnya.

Kambing hitam kadang bikin repot pandangan, Tan Hok Ling yang sekarang berjubah putih dianggap sebagai biang dari massa yang mengamuk, menjarah dan membakar hangus griya Oom Liem, kelihatan hitam. Apalagi dunia yang dulu diguleti Anton Medan itu memang hitam.

Kambing-kambing hitam berkeliaran. Kambing hitam pun bukan hanya hak milik para madani, apalagi belum dipatenkan di paramadina. Kasus penculikan aktivis meluluh lantakkan karir sang kambing hitam yang berbintang-bintang. Demikian juga penembakan mahasiswa Trisakti diawal gejolak reformasi juga tidak mau ketinggalan kereta. Sate kambing bukan hanya idola orang sipil, kelezatannya bisa dinikmati semua orang. Kecuali bagi yang sudah di-warning si jantung-mati.

Sejak dulu kambing tidak pernah pandang bulu, kalau sudah saatnya tiba pasti bandot akan memenuhi kewajibanya tanpa pilih-pilih. Kambing hitam pun demikian, lebih-lebih karena memang bulunya jarang ditampakkan. Sehingga orang nomor satupun bisa dibidiknya. Kegagalan Orde Lama misalnya sempat menghitamkan jasa Bung Besar sekian lama, demikian juga keruntuhan masa berikutnya melegamkan kulit Anak Desa. Bagaimana seterusnya? Mudah-mudahan tidak demikian, sebab yang berbuat bukan kambing hitam tetapi oknum manusia yang paling demen mengatasnamakan kambing kepada sesama, patut di curigai.

Kambing-kambing yang sebagian berbulu hitam, damai di kandang peternak, dijual dipasar dalam tangan taoke dan menjatuhkan leher di mata pisau jagal, sebagian sempat teriak minta tolong dengan dengan jawaban mantap echo dinding slaughter house.

Kambing-kambing hitam jadi-jadian pun demikian, akankah terus berkembang atau bahkan makin jadi? Sebab paling mudah mendapatkannya sekalipun cahaya matahari telah surup mirip lampu 5 watt, bahkan saat sudah terlalu gelap untuk disebut kelam. Suatu peluang bisnis yang sangat menantang bagi yang suka melanggar pantangan dan ingin berekspresi dengan pentungan.

Sekarang, di saat rumah Allah terbesar di Asia Tenggara porak-poranda seperti judul sebuah berita sebuah harian yang terbit di Barat Sumatra, basar harapan agar yang ditangkap bukanlah kambing hitam.  Mereka hanya tahu rumput yang telah disabit dan tidak tahu rakit-merakit dinamit apalagi sekolah BOMB yang tentunya jauh lebih rumit.

Sudah waktunya manusia  menunjukan jati diri, tanpa harus malu-malu sehingga tega menutupinya dengan atas nama kambing hitam yang terhormat sekalipun perilakunya kadang kelewat jahat. Tidak perlu merendahkan diri sampai mengibaratkan badan hina bak bintang apalagi direndahkan,  dengan berbagai amcaman pula!

K K N



           
           


             


Banyak sekali kepanjangan KKN,
dirangkai menjadi kalimat atau sekedar dipantas-pantaskan saja.

Karuhun Kenegerian Ngastina mungkin satu-satunya dialami ini yang dulunya tgak berdiri dengan sponsor para mahasiswa yang hampir mengakhri masa kuliahnya, dengan mengabdikan kepada masyarakat atawa kuliah kerja nyata. Selain jelas berbeda dengan Negeri Astina yang ada dalam alam pewayangan juga sebenarnya Ngastina hanya merupakan bagian dari Negeri Khayal yang tidak ada di alam nyata.

Sebagai negeri yang didirikan oeleh para idealis dari pusat penggodongan intelek, tentu saja Ngastina sustu negeri republik yang menanut sistem demokrasi.  Ada Kongres Kenegrian Ngastina yang tidak kalah majemuknya daripada Kongres di Negeri Paman Sam. Demikian juga ada Kabinet Kekayaan Ngastina merupakan susunan dewan menetri  yang berada dibawah Kepala Kabinet Ngastina setingkat Perdana Mentri di Buckinghum. Tetapi sebagai bagian dari Negeri Khayal tentu pucak tertinggi kekuasaan dijalankan oleh seorang raja.

Adalah merupakan salah stu kisahkasih kalau dalm kekuasaan raja yang telah turun temurun juga sedikit imbas negatifyang juga ikut-ikutan turun-menurun plus senggol sana senggol sini sehingga kedamaian demokrasi Ngastina yang dirintis para pelopor makin lama makin jauh dari harapan., makin melenceng dari tujuan negara seperi halnya yang tertuang dalam undang-undang.

Perhatian yang berlebihan terhadap golongan tertentu  misalnya, yang jelas-jelas melanggar aturan main yang telah digariskan bukan hanya menyebabkan kelompok yang lain merasa tersingkirkan tetapi benar-benar dibuang jauh-jauh dari kekuasaan atau bahkan terpuruk ke dalam kandang sitimbin. Keadaan demikian merupakan salah satu warisan kecil-kecil numpuk, mungkin lama ngastina mengarungi kedemokrasianya ternyata makin ada kecenderungan ke arah sana.

Boleh saja kalau kantong-kantong nasi yang dikambinghitamkan, boleh jadi dialah sebab utamanya yang akhirnya mendorong untuk menghalalkan segala cara termasuk kasak-kusuk nyebeng. Hal inilah yang akhirnya terwujud dalam bentuk personil Karena Korupsi Nyangkut, Kenal Kolusi Nempel dan tidak boleh dilupakan Kong Kalingkong Nepotisme pun ada disegala bidang kehidupan bangsa dan bernegeri.

Perjalanan panjang yang di alami ngastina dalam mengarungi peredaran galaksinya yang sudah demikian mengakar atu bahkan boleh disebut mendarah daging atu tidak bisa lagi menolak kalau dikatakan sudah membudaya, tentu hal yang demikian yang berlangsung dari waktu ke waktu menjadi bahan kajian para intelek. Kaum Kerja Negeri ngastina tidak lepas menjadi sorotan, karena memang mereka adalah salah satu penikmat semacam upeti yang disetor masyarakat kepada bangsanya tercinta. Sementara para pembayar sendiri sebenarnya kebanyakan termasuk pelaku kerja ngelangsa alias menderita. Sehingga tak mengherankan, begitu gelombang kehidupan ekonomi negeri terguncang menyulut terbakarnya kumpulan krisis nyusup atau tersembunyi termasuk Krisis Kepercayaan Negeriawan yang dianggap sebagai bagian yang terlibat dalam menodai nilai perjuangan para pendahulu.

Sorotan utama tentu saja diarahkan kepada para wakil masyarakat yang duduk di Kursi Kerja Ngantuk, yang mestinya mereka menyerahkan jeritan hati nurani rakyat dengan kekhasan gayanya, kritis-kritis ngomongnya. Bukan hanya Keluh Kesah Nangis seperti merasa ketakutan Kehilangan Kursi Nantinya, pada periode pemilihan umum kedua setengah tahun berikutnya. Sehingga mereka tidak berbeda dengan Kumpulan Kepala Nunduk karena asik merasakan kontak kantuk nikmat dan kalau ada ketukan palu ketua sidang jadilah suara mereka alunan Kelakar Kepala Ngangguk.

Padahal anggota Kongres Kenegrian Ngastina jelas-jelas dipilih melalui prosedur yang sangat lama dan mahal serta melibatkan segenap isi negeri Ngastina tetapi ternyata tidak lepas dari intaian inyiak balang untuk Kedap-Kedip Numpang, sehingga muncullah orang-orang yang kadang tak tentu rimbonya tapi bisa dikenal dari empal-empal di belakang nama kecilnya ada hubungan dengan si anu plus dan ada gesekan dari si Ani dan tidak lupa salam tempel untuk si Ana. Jadilah pemilihan umum menjadi pemilihan orang-orang tak dikenal orang partainnya seklipun tetap harus jadi karena memang Kecil-Kecil Nomornya.

Padahal betapa sulitnya untuk dapat sepuluh besar sekalipun kontestan pada setiap pemilu tidak pernah kurang kurang dari oleh 123 partai. Berberapa ketua partai malah harus hilang dari peredaran, namanya sekalipun tidak dalam daftar yang di umumkan kepanitiaan pemilu, ngastina atawa tidak kebahagiaan nomor. Nama-nama meraka hanya ada di Kepanitiaan Kepiluan Ngastina.

Sementara itu cendiak pandai membuktikan kekonsistenan dan kecendekiawanan mereka dengan menyeruhkan suara hati rakayat yang makin menderita dalam berbagai krisis dan tiba-tiba ditambah dengan kebijakan baru yang justeru makin menindih kehidupan Keluarga Kecil Ngesor (dibawah) sehingga mereka bak jatuh dari tangga kejebur sumur, eh dinding sumurnya runtuh! Reformasi total! Mau tidak mau harus dilakukan sehingga roda kenegerian tidak jadi kenegerian, jalan normal seperti harapan seluruh rakyat dan cita-cita pendiri negeri di alam kelanggengan. Tentu saja sorotan tajam reformasi pada keadaan sumber daya manifulasi eh manusia di Ngastina yang sudah begitu melekat dengan korupis, kolusi dan nepotisme yang merupakan sumber musibah bagi rakyat tetapi menjadi ladang berkah bagi para pejabat.

Kurung Koruptor Negeri! Kikis Kolutor Nyinyir! Dan juga singkirkan sistem Kerabat Keluarga Nepotis! Dan berbagai jargon lain bermunculan memenuhi semua sudut jalan di Negeri Ngastina yang memang cuma sedikit. Inti dari semuanya tidak jauh berbeda memerangi jajaran kenegerian dari para Koruptor, Kolutor dan Nepotis.

Namun demikian karena ketebatasan news, entah bagaimana kelanjutan perjuangan para intelek itu sekarang. Tetapi berita terakhir yang sempat tersiar melalui media elektronik yang makin dekatdan berpihak kepada para reformis, mereka tidak sikucapang sikuacapeh sikua tabang sikua lapeh yang akhirnya malah dapat mngakibatkan iklim kehidupan bernegeri makin ngeri dan tidak menentu  tetapi akan selalu mehasilkam produk reformasi yang dapat membangkit batang tarandam karena sadar akan nasib negeri Ngastina yang makin terpuruk dimata negeri ngeri khayal tetangganya.

Pariwisata untuk Perut vs Perut untuk Pariwisata



           
           


             


Tulisan 1997-an nich,
mengomentari tentag iklan film seronok yang terpampang setiap hari di koran-koran lokal. 
Dimuat di KABA LUHAK NAN TUO kebanggaan kami ....

RAMADHAN kemarin yang baru saja berlalu meninggalkan kesan tersendiri, betapa kita sangat mudah menilai pihak lain sementara pula menilai perilaku sendiri. Dikaitkan dengan hari  Pers Nasional yang juga diperingati beberapa hari setelah lebaran, maka pers yang kita cintai (Alhamdulillah tidak termasuk KABA LUHAK NAN TUO) kebanyakan adalah pemasang iklan film yang melakukan hal yang sangat di sayangkan tersebut. Oleh karena itu ulasan ini hanyalah merupakan media pengingat yang mudah-mudahan bisa mengingatkan yang masih ingat kalau saat itu memang benar-benar tidak ingat dan tentu saja perlu diingatkan tetapi tidak ada yang mengingatkan.

Sandra Bulloc tersenyum manis dalam peluk Chirs O’Donnel.  Ia mencuri pandang dengan kedipan matanya yang menantang, in the war they found each other… in each other they found love…. Jodie Foster pun tak mau ketinggalan, dalam Nell-nya dia berpose seronok.

Sementara itu ’orang-orang kita’ yang mengaku selalu lebih bersih, benar-benar bersih tubuhnya dari pakaian yang layak-untuk gembel di kolong langit sekalipun. Dan sebagaimana biasa, sebagai daya tarik film-film tanpa teks (terjemahan resmi) judulnya selalu mengajak yang shaum, ”Batalin yo, Da!”  Mulai dari bisikan nafsu yang membangkitkan keliaran tak pelak lagi bisa menimbulkan gairah terlarang.  Kalau sudah begitu selingkuh jadi jalan keluar. Tidak heran kalau akhirnya menjamur Jaringan Terlarang yang memproduksi para Gigolo...!  

Perut. Masih sekitar perlut dan poster-poster itupun di buat demi perut-perut pengolah kanvas, produser plus yang perutnya digambar dan banyak lagi perut  perut lain, termasuk orang orang koran yang mengemas poster-poster dalam bentuk kecil sehingga dapat makin menerobos masuk melanglangbuana kemana perut sesukahati.

Sucinya ramadhan sekarang kemarin pun diwarnai panasnya dapur KFC dan CFC disiang bolong.  Memang, survey membuktikan... secara akal sehat, memang harus panas kalau ayam goreng yang dihasilkan ingin renyah! Lagi-lagi ajakan, ”Batalin dong Nii”.

Perut, terus-terusan nich bilang perut... Dan maaf, banyak kata kata ’perut’tertulis disini karena tulisan ini juga dibuat demi perut!

Dua nasib perut boleh berbeda. Perut cewek cantik yang sebagaimana terjadi sekarang sepertinya aman-aman saja, sekalipun tempatnya lebih memohok dan menyolok mata seperti di tempat keramaian umum plus embel-embel agar menimbulkan rasa iba bintangnya dijadikan melarat dengan bagian tertutup koran bekas yang sudah koyak. Dan batal puasa Ramadhan karena perut yang satu ini sangat berat sanksinya, sekalipun harus menggantinya dengan 60 hari puasa atau memberi makan 60 rang miskin !  Tidak perlu dibahas kalau dengan yang nggak sah.....sementara penggoda batal yang lain, yang kalau dilanggar setiap hari sekalipun,sanksinya maksimal 50% dari sekali pelanggaran diatas.

Koran-koran lokal saat ini ramai memberitakan bahwa dengan dalih pariwisata bersih maka dengan wibawanya Pak Wako Padang memojokkan tempat-temat yang enak untuk mojok ini. Rupanya keliru, ”Pariwisata bukan untuk perut...!”

Perut yang ditarik oleh para pengusaha waralaba pun sebenarnya tidak sembarang perut, hanya perut-perut tertentu. Misalnya perut yang selalu senang sembunyi dibalik kemudi mobil pribadi pada Ramadhan.  Awas yang plat merah jangan coba-coba!  Nol koma sekian permilnya pangsa pasar perut liarnya Kiki Fatmala dan manusiawat-nmanusiawati seprofensinya yang lain.yang bisa dinikmati oleh semua orang berbola mata, dari anak balita sampai kakek-kakek balita juga (baik,lincah,tampan,jujur dan gagah), dan ya.. menggoda! Seolah olah menimbukan tanya, ”Perut ko, untuk pariwisata?”

Slogan atau mungkin jargon atau bahkan semboyan untuk menghormati yang berpuasa dan sejenisnya yang sampai ada terpasang didepan sebuah gereja (Maaf lho, kalau boleh berbagi pengalaman anak asrama, yang paling doyan mengabungin kita dipagi yang dingin untuk shalat shubuh juga saudara kita yang katolik/protestan!) dan lain-lain termasuk himbauan, peraturan dan program pemerintah seolah-olah hanya disentuhkan keperut ayamnya KFC dan CFC, yang sekali lagi amat terbatasi! Mungkin sudah saatnya Chintami yang gak doyan mi juga dikasih tahu tentang semua itu, kalau bisa sementara puasa ini, gimana kalau rapih-rapih sebelum keluar. Soalnya yang melihat haruus tutup mata dengan lima jari...yang terbuka!

Tidak keliru kalau ditengok juga tinggalan Pujangga Lama, ”Semut diseberang lautan tampak sedangkan gajah dipelupuk mata tidak terlihat. ”  Itu saja sebabnya maka berkaitan dengan kedua perut diatas untuk insan pers dapat diplesetkan menjadi, ” Perut ayam tercincang tenggelam dalam minyak kelam dibalik kaca hitam tampak, perut para bintang nempel di halaman koran gak kelihatan.”  Yang lain lain tinggal menyesuaikan.

Sebaagai akhir dari tulisan ini, tidak salah kalau sma sama kita interopeksi. Apakah nasib dua perut diatas yang begitu bertolak belakang diperlukan media masa sudah merupakan indikasi pola pikir masyarakat kita yang sudah cenderung maklum kalau perut untuk pariwisata?  Tetapi tidak pariwisata untuk perut.  Mungkin sudah saatnya perut perut tersebut  - karena sama sama perut diperlakukan sebagaimana perut layaknya.

Sebagai akhir yang paling akhir, ada sebait puisi karya pujangga yang tidak mau disebut sebagai Pujangga karena tidak ada alasan untuk menjadi sebagai Pujangga’

Kalau perut ayam dilarang
Gimana perut para bintang
Yang sering taruh pakaian tempat sembarang
Padahal suka lupa kalau sudah asyik di kolam renang
Akhirnya tak tahu diambil orang
Biasanya kegemaran para bujang
Jadinya ya gitu dech, ditelan......jang!