Kamis, 11 September 2014

Puasa Pertama di Ranah Religi



           
           


             


Kalau ada yang mengatakan bahwa Ranah Minang bernuansa religius. Siapapun akan setuju. Banyak tokoh agama Islam yang terlahir dari Sumatera Barat. Buya HAMKA cumalah salah satunya, masih banyak yang lainnya.

Nuansa religius memang sudah warisan turun-temurun seperti tergambar dari berbagai cerita roman yang dihasilkan pengarang masa lalu Ajaran agama Islam sudah menjadi bagian hidup masyarakat Minangkabau. Bahkan amanat orangtua kepada anaknya yang merantau ke manapun yang pertama dikatakan adalah, “Jangan tinggalkankan sholat!”

Jika ada yang mengatakan bahwa Rumah Makan Padang ada dimana-mana. Maka hal itu bukan rahasia, sekalipun di Sumatera Barat sendiri tidak ada yang menamakan diri Rumah Makan Padang. Soal kuliner daerah yang satu ini sangat merajai, di kota manapun di seluruh Indonesia. Lidah masyarakat sudah sedemikian lekat sehingga sekarang Rumah makan Padang pun sudah menembus ke pedesaan.

Demikian juga kalau ada yang mencari makanan di jam yang tak lazim, tengah malam misalnya, maka Rumah Makan Padang dapat jadi tujuan karena umumnya selalu buka alias 24 jam nonstop. Tapi jangan coba-coba sarapan di tempat ini, umumnya tidak menyediakan kecuali beberapa diantaranya ada menjual Kupat Sayur Paku misalnya.

Puasa tahun 1997 merupakan awal kehidupanku di bulan penuh berkah di negeri seberang, Kota Batusangkar. Di kota kecil yang sejuk ini terdapat Istana Pagaruyung yang menjadi pusat Kerajaan Minangkabau. Merupakan ibukota kabupaten Tanah Datar yang lebih dikenal sebagai Luhak nan Tuo karena berdasarkan cerita di wilayah inilah pertamakalinya nenek moyang masyarakat Minangkabau mendarat. Sebuah kota dengan nuasa religi yang kental.

Dengan berbagai asumsi yang tergambar sejak awal maka aku yakin kalau ramadhan di kota ini sangatlah nikmat. Soal makan, pastinya tidak aka nada kesulitan. Pada saat berbuka akan banyak warung yang menyediakan makanan, demikian juga pada saat sahur lampu Rumah Makan Padang selalu terang, penuh dengan langganan.

Berbagai anggapan itu pulalah yang membuat aku dan temanku begitu yakin melangkah, meninggalkan rumah dalam kesunyian pukul 3.00 dinihari. Berjalan ke pasar yang jaraknya kurang dari 2 km. Mencari makan sahur.

Tetapi, pasar sedemikian gelap, hanya sinar bulan yang menerangi. Lampu rumah makan di sisi jalan pun tak menyala. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, hanya kami berdua makhluk yang mengotori kesunyian malam itu. Rumah makan di dalam pasar pun tak berpenghuni. Seantero pasar tak bermakhluk, hanya kucing dan tikus yang berkeliaran malan itu, selain kami berdua.

Lebih dari satu jam mengitari jalan, berputar di dalam area pasar. Kaki mulai cape, udara dingin makin menusuk rusuk, haus dan lapar sungguh tak tertahankan. Tidak ada makanan sahur yang dapat dinikmati saat itu, demikian juga sekedar pengganjal perut tidak ada yang menjualnya. Semua tutup.

Dalam lelah kami segera pulang, dengan penuh kecewa segera menyalakan kompor dan memanggang panci. Segelas air putih hangat adalah satu-satunya jatah sahur pertama kali kami di negeri religi.

Ketika hal itu diceritakan kepada teman-teman, sungguh diluar dugaan, sangat berlainan dengan Rumah Makan Padang di Jawa atau daerah lainnya. “Memang tidak pernah ada yang buka di jam-jam segitu,” ujar seorang rekan, “Tetapi kalau nanti sore, sangat ramai. Pasar penuh oleh orang yang jualan pabukoan.”
“Mungkin begitu sebabnya mereka disini tidak menyebut diri sebagai Rumah Makan Padang, ya?” Selorohku, “Tidak buka 24 jam.”

Pemandangan lain di negeri religi yang membuat aku mengurut dada adalah warung sate di samping terminal Pasar pusat kota itu. Masih jam 10 pagi, di tengah kesibukan pasar hari kamis, diantara berjejalnya angkutan kota warna kuning dengan berbagai trayek, kepulan asap sedap Sate Padang begitu tebal.

Baunya menyelusup hadir di hidung setiap orang yang menyaksikannya. Tak ada asap kalau tak ada api. Demikian juga Sate Padang tidak akan dipanggang kalau tidak ada yang mau memakannya. Dan, saat itu belum sepertiga waktu berpuasa. Masih terlalu lama untuk disantap saat maghrib dan terlalu ketinggalan kalau niatnya sahur.

Beberapa pelajaran penting aku dapat dari dua kejadian itu, kembali kepada diri sendiri! Jangan berharap makan sahur di Rumah Makan Padang atau lapau tetapi harus menyiapkan segala keperluan itu sendiri.

Jika malas masak sendiri, menyiasati dengan makanan yang awet dari pasar pabukoan. Selain itu, aku semakin memahami bahwa puasa itu adalah rahasia antara Yang maha Kuasa dengan kita semata. Kalau tergoda, banyak tempat menyediakan makanan. Tidak ada orang yang mengenali aku di keramaian. Kembali kepada niat sendiri, berpuasa atau berpuas-puas?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar