Kalau ada yang mengatakan bahwa Ranah Minang
bernuansa religius. Siapapun akan setuju. Banyak tokoh agama Islam yang
terlahir dari Sumatera Barat. Buya HAMKA cumalah salah satunya, masih banyak
yang lainnya.
Nuansa religius memang sudah warisan turun-temurun
seperti tergambar dari berbagai cerita roman yang dihasilkan pengarang masa
lalu Ajaran agama Islam sudah menjadi bagian hidup masyarakat Minangkabau.
Bahkan amanat orangtua kepada anaknya yang merantau ke manapun yang pertama
dikatakan adalah, “Jangan tinggalkankan sholat!”
Jika ada yang mengatakan bahwa Rumah Makan Padang
ada dimana-mana. Maka hal itu bukan rahasia, sekalipun di Sumatera Barat
sendiri tidak ada yang menamakan diri Rumah Makan Padang. Soal kuliner daerah
yang satu ini sangat merajai, di kota manapun di seluruh Indonesia. Lidah
masyarakat sudah sedemikian lekat sehingga sekarang Rumah makan Padang pun
sudah menembus ke pedesaan.
Demikian juga kalau ada yang mencari makanan di
jam yang tak lazim, tengah malam misalnya, maka Rumah Makan Padang dapat jadi
tujuan karena umumnya selalu buka alias 24 jam nonstop. Tapi jangan coba-coba
sarapan di tempat ini, umumnya tidak menyediakan kecuali beberapa diantaranya
ada menjual Kupat Sayur Paku misalnya.
Puasa tahun 1997 merupakan awal kehidupanku di
bulan penuh berkah di negeri seberang, Kota Batusangkar. Di kota kecil yang
sejuk ini terdapat Istana Pagaruyung yang menjadi pusat Kerajaan Minangkabau.
Merupakan ibukota kabupaten Tanah Datar yang lebih dikenal sebagai Luhak nan
Tuo karena berdasarkan cerita di wilayah inilah pertamakalinya nenek moyang
masyarakat Minangkabau mendarat. Sebuah kota dengan nuasa religi yang kental.
Dengan berbagai asumsi yang tergambar sejak awal
maka aku yakin kalau ramadhan di kota ini sangatlah nikmat. Soal makan,
pastinya tidak aka nada kesulitan. Pada saat berbuka akan banyak warung yang
menyediakan makanan, demikian juga pada saat sahur lampu Rumah Makan Padang
selalu terang, penuh dengan langganan.
Berbagai anggapan itu pulalah yang membuat aku dan
temanku begitu yakin melangkah, meninggalkan rumah dalam kesunyian pukul 3.00
dinihari. Berjalan ke pasar yang jaraknya kurang dari 2 km. Mencari makan
sahur.
Tetapi, pasar sedemikian gelap, hanya sinar bulan
yang menerangi. Lampu rumah makan di sisi jalan pun tak menyala. Tidak ada
tanda-tanda kehidupan, hanya kami berdua makhluk yang mengotori kesunyian malam
itu. Rumah makan di dalam pasar pun tak berpenghuni. Seantero pasar tak
bermakhluk, hanya kucing dan tikus yang berkeliaran malan itu, selain kami
berdua.
Lebih dari satu jam mengitari jalan, berputar di
dalam area pasar. Kaki mulai cape, udara dingin makin menusuk rusuk, haus dan
lapar sungguh tak tertahankan. Tidak ada makanan sahur yang dapat dinikmati
saat itu, demikian juga sekedar pengganjal perut tidak ada yang menjualnya.
Semua tutup.
Dalam lelah kami segera pulang, dengan penuh
kecewa segera menyalakan kompor dan memanggang panci. Segelas air putih hangat
adalah satu-satunya jatah sahur pertama kali kami di negeri religi.
Ketika hal itu diceritakan kepada teman-teman,
sungguh diluar dugaan, sangat berlainan dengan Rumah Makan Padang di Jawa atau
daerah lainnya. “Memang tidak pernah ada yang buka di jam-jam segitu,” ujar
seorang rekan, “Tetapi kalau nanti sore, sangat ramai. Pasar penuh oleh orang
yang jualan pabukoan.”
“Mungkin begitu sebabnya mereka disini tidak
menyebut diri sebagai Rumah Makan Padang, ya?” Selorohku, “Tidak buka 24 jam.”
Pemandangan lain di negeri religi yang membuat aku
mengurut dada adalah warung sate di samping terminal Pasar pusat kota itu.
Masih jam 10 pagi, di tengah kesibukan pasar hari kamis, diantara berjejalnya
angkutan kota warna kuning dengan berbagai trayek, kepulan asap sedap Sate
Padang begitu tebal.
Baunya menyelusup hadir di hidung setiap orang
yang menyaksikannya. Tak ada asap kalau tak ada api. Demikian juga Sate Padang
tidak akan dipanggang kalau tidak ada yang mau memakannya. Dan, saat itu belum
sepertiga waktu berpuasa. Masih terlalu lama untuk disantap saat maghrib dan
terlalu ketinggalan kalau niatnya sahur.
Beberapa pelajaran penting aku dapat dari dua
kejadian itu, kembali kepada diri sendiri! Jangan berharap makan sahur di Rumah
Makan Padang atau lapau tetapi harus menyiapkan segala keperluan itu sendiri.
Jika malas masak sendiri, menyiasati dengan
makanan yang awet dari pasar pabukoan. Selain itu, aku semakin memahami bahwa
puasa itu adalah rahasia antara Yang maha Kuasa dengan kita semata. Kalau
tergoda, banyak tempat menyediakan makanan. Tidak ada orang yang mengenali aku
di keramaian. Kembali kepada niat sendiri, berpuasa atau berpuas-puas?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar