Banyak sekali
kepanjangan KKN,
dirangkai menjadi
kalimat atau sekedar dipantas-pantaskan saja.
Karuhun
Kenegerian Ngastina mungkin satu-satunya dialami ini yang dulunya tgak berdiri
dengan sponsor para mahasiswa yang hampir mengakhri masa kuliahnya, dengan
mengabdikan kepada masyarakat atawa kuliah kerja nyata. Selain jelas berbeda
dengan Negeri Astina yang ada dalam alam pewayangan juga sebenarnya Ngastina
hanya merupakan bagian dari Negeri Khayal yang tidak ada di alam nyata.
Sebagai
negeri yang didirikan oeleh para idealis dari pusat penggodongan intelek, tentu
saja Ngastina sustu negeri republik yang menanut sistem demokrasi. Ada Kongres Kenegrian Ngastina yang tidak kalah
majemuknya daripada Kongres di Negeri Paman Sam. Demikian juga ada Kabinet
Kekayaan Ngastina merupakan susunan dewan menetri yang berada dibawah Kepala Kabinet Ngastina
setingkat Perdana Mentri di Buckinghum. Tetapi sebagai bagian dari Negeri
Khayal tentu pucak tertinggi kekuasaan dijalankan oleh seorang raja.
Adalah
merupakan salah stu kisahkasih kalau dalm kekuasaan raja yang telah turun
temurun juga sedikit imbas negatifyang juga ikut-ikutan turun-menurun plus
senggol sana senggol sini sehingga kedamaian demokrasi Ngastina yang dirintis
para pelopor makin lama makin jauh dari harapan., makin melenceng dari tujuan
negara seperi halnya yang tertuang dalam undang-undang.
Perhatian
yang berlebihan terhadap golongan tertentu
misalnya, yang jelas-jelas melanggar aturan main yang telah digariskan
bukan hanya menyebabkan kelompok yang lain merasa tersingkirkan tetapi
benar-benar dibuang jauh-jauh dari kekuasaan atau bahkan terpuruk ke dalam
kandang sitimbin. Keadaan demikian merupakan salah satu warisan kecil-kecil
numpuk, mungkin lama ngastina mengarungi kedemokrasianya ternyata makin ada
kecenderungan ke arah sana.
Boleh saja
kalau kantong-kantong nasi yang dikambinghitamkan, boleh jadi dialah sebab
utamanya yang akhirnya mendorong untuk menghalalkan segala cara termasuk
kasak-kusuk nyebeng. Hal inilah yang akhirnya terwujud dalam bentuk personil
Karena Korupsi Nyangkut, Kenal Kolusi Nempel dan tidak boleh dilupakan Kong
Kalingkong Nepotisme pun ada disegala bidang kehidupan bangsa dan bernegeri.
Perjalanan
panjang yang di alami ngastina dalam mengarungi peredaran galaksinya yang sudah
demikian mengakar atu bahkan boleh disebut mendarah daging atu tidak bisa lagi
menolak kalau dikatakan sudah membudaya, tentu hal yang demikian yang
berlangsung dari waktu ke waktu menjadi bahan kajian para intelek. Kaum Kerja
Negeri ngastina tidak lepas menjadi sorotan, karena memang mereka adalah salah
satu penikmat semacam upeti yang disetor masyarakat kepada bangsanya tercinta.
Sementara para pembayar sendiri sebenarnya kebanyakan termasuk pelaku kerja
ngelangsa alias menderita. Sehingga tak mengherankan, begitu gelombang
kehidupan ekonomi negeri terguncang menyulut terbakarnya kumpulan krisis nyusup
atau tersembunyi termasuk Krisis Kepercayaan Negeriawan yang dianggap sebagai
bagian yang terlibat dalam menodai nilai perjuangan para pendahulu.
Sorotan
utama tentu saja diarahkan kepada para wakil masyarakat yang duduk di Kursi
Kerja Ngantuk, yang mestinya mereka menyerahkan jeritan hati nurani rakyat
dengan kekhasan gayanya, kritis-kritis ngomongnya. Bukan hanya Keluh Kesah
Nangis seperti merasa ketakutan Kehilangan Kursi Nantinya, pada periode
pemilihan umum kedua setengah tahun berikutnya. Sehingga mereka tidak berbeda
dengan Kumpulan Kepala Nunduk karena asik merasakan kontak kantuk nikmat dan
kalau ada ketukan palu ketua sidang jadilah suara mereka alunan Kelakar Kepala
Ngangguk.
Padahal
anggota Kongres Kenegrian Ngastina jelas-jelas dipilih melalui prosedur yang
sangat lama dan mahal serta melibatkan segenap isi negeri Ngastina tetapi
ternyata tidak lepas dari intaian inyiak balang untuk Kedap-Kedip Numpang,
sehingga muncullah orang-orang yang kadang tak tentu rimbonya tapi bisa dikenal
dari empal-empal di belakang nama kecilnya ada hubungan dengan si anu plus dan
ada gesekan dari si Ani dan tidak lupa salam tempel untuk si Ana. Jadilah
pemilihan umum menjadi pemilihan orang-orang tak dikenal orang partainnya
seklipun tetap harus jadi karena memang Kecil-Kecil Nomornya.
Padahal
betapa sulitnya untuk dapat sepuluh besar sekalipun kontestan pada setiap
pemilu tidak pernah kurang kurang dari oleh 123 partai. Berberapa ketua partai
malah harus hilang dari peredaran, namanya sekalipun tidak dalam daftar yang di
umumkan kepanitiaan pemilu, ngastina atawa tidak kebahagiaan nomor. Nama-nama
meraka hanya ada di Kepanitiaan Kepiluan Ngastina.
Sementara
itu cendiak pandai membuktikan kekonsistenan dan kecendekiawanan mereka dengan
menyeruhkan suara hati rakayat yang makin menderita dalam berbagai krisis dan
tiba-tiba ditambah dengan kebijakan baru yang justeru makin menindih kehidupan
Keluarga Kecil Ngesor (dibawah) sehingga mereka bak jatuh dari tangga kejebur
sumur, eh dinding sumurnya runtuh! Reformasi total! Mau tidak mau harus
dilakukan sehingga roda kenegerian tidak jadi kenegerian, jalan normal seperti
harapan seluruh rakyat dan cita-cita pendiri negeri di alam kelanggengan. Tentu
saja sorotan tajam reformasi pada keadaan sumber daya manifulasi eh manusia di
Ngastina yang sudah begitu melekat dengan korupis, kolusi dan nepotisme yang
merupakan sumber musibah bagi rakyat tetapi menjadi ladang berkah bagi para
pejabat.
Kurung
Koruptor Negeri! Kikis Kolutor Nyinyir! Dan juga singkirkan sistem Kerabat
Keluarga Nepotis! Dan berbagai jargon lain bermunculan memenuhi semua sudut
jalan di Negeri Ngastina yang memang cuma sedikit. Inti dari semuanya tidak
jauh berbeda memerangi jajaran kenegerian dari para Koruptor, Kolutor dan
Nepotis.
Namun
demikian karena ketebatasan news, entah bagaimana kelanjutan perjuangan para
intelek itu sekarang. Tetapi berita terakhir yang sempat tersiar melalui media
elektronik yang makin dekatdan berpihak kepada para reformis, mereka tidak
sikucapang sikuacapeh sikua tabang sikua lapeh yang akhirnya malah dapat
mngakibatkan iklim kehidupan bernegeri makin ngeri dan tidak menentu tetapi akan selalu mehasilkam produk
reformasi yang dapat membangkit batang tarandam karena sadar akan nasib negeri
Ngastina yang makin terpuruk dimata negeri ngeri khayal tetangganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar