Sebahagian orang mengatakan
bahwa ulangtahun merupakan hal yang menakutkan, karena kedatangannya identik
dengan berkurangnya jatah menikmati keindahan ala mini. Namun, tidak sedikit yang menyambutnya dengan
penuh kemeriahan.
“Selamat ulangtahun” atau
“Happy birthday to you” telah menjadi lagi wajib balita jauh sebelum mereka
bisa mengeja apalagi membaca atau bahkan mengerti makna yang tersirat dalam
dendang yang dilantunkan.
Belum lama berselang, ketika
kemerdekaan Indonesia menjelang setengah abad.
Kemeriahan menghiasi seantero negeri.
Ulangtahun emas, kita sepakat menyebutnya. Tidak mengherankan kalau pada saat itu emas
di puncak monas pun turut berbinar dalam gemerlap tarian kembang api sumbangan
dari luar negeri. (catatan : betapa tulisan ini sudah berulangkali
berulangtahun ya ….).
Ulangtahun emas yang
sebenarnya telah mengurangi jatah mengarungi kehidupan selama setengah abad
menghadirkan kebahagiaan tersendiri, mungkin karena jarang yang dapat
mencapainya. Apalagi ulangtahun emas
dari saat yang datang ketika usia mulai larut, pernikahan misalnya.
Tetapi, kebahagiaan
kakek-nenek menyambut ulangtahun emas pernikahan sering membuat ahli matematika
bingung, mungkin karena ketularan mereka yang punya hajat. Pada 25 tahun sebelumnya pasangan tersebut
hidup dengan penu gairah menyambut ulangtahun perak, memeriahkan seperempat
abad baralek gadang-nya. Bukankah kalau 25 tahun pertama adalah perak
maka 25 tahun berikutnya juga perak lagi sehingga menjadi 2 perak, sama sekali
tidak berubah menjadi emas !
Kaba Luhak Nan Tuo yang kita
cintai bulan ini kehadiran tamu bernama ulangtahun. Ketiga, masih balita yang manja kalau
manusia. Tetapi untuk sebuah penerbitan
yang di saat kelahirannya harus melewati saat krisis dengan eksis adalah hal
yang luar biasa. Saat itu, semua media
massa di negeri ini memilih mengurangi ketebalannya atau merubah warna
tampilannya daripada harus gulung tikar untk sementara atau sampai batas waktu
yang belum bisa ditentukan.
Ulangtahun akan berlalu begitu
saja dan akan pergi sia-sia tak berbekas tanpa introspeksi terhadap perjalanan
panjang yang telah dilalui. Romantika
kehidupan yang tidak selalu nyaman, jalan lurus yang tidak selalu dapat dilalui
dengan mulus.
Kaba Luhak Nan Tuo pun
demikian, koreksi terhadap segala yang terjadi di masa lalu untuk perbaikan di
masa yang akan datang sangat diperlukan.
Menengok balik ke tahun 1998/1999 dari September 1998 sampai Agustus
1999 yang lengkap 12 bulan ini, Kaba Luhak nan Tuo beberapa kali tidak menjumpai
pembaca. Di usia ketiga ini hendaknya
tidak perlu lagi terjadi gerhana bulan.
Untuk mencapai itu semua tentu perlu penjadwalan terbit yang ketat,
deadline yang jelas dan tidak lupa peran dari semua pengisi dan pembaca. Tidak lupa kerja keras dan tekad untuk
menjadi media yang layak dibaca !
Kalau begitu bagaimana dengan
honornya ? Memang untuk mengatasi
permasalahan kurangnya bahan tulisan yang berkualits diperlukan perangsang yang wajar bagi karya seorang
penulis. Sebenarnya bukan hanya Kaba
Luhak Nan Tuo tetapi hampir semua media cetak di Sumatera barat belum
melakukannya. Bahkan ada koran yang
mengaku sebagai harian nasional, tidak menghargai sebuah artikel politik di
kolom Opini-nya. Sekedar kata terimakasih
pun tidak terucap.
Tidak ada salahnya Kaba Luhak
Nan Tuo tampil beda untuk yang satu ini, tidak perlu meniru gaya orang lain,
menjadi lebih menghargai gemulai ajojing sebelas jari dalam irama mesin
tik. Bukankah kalau dibandingkan dengan
tampilan media cetak lain, kaba Luhak Nan Tuo adalah yang terbaik di Sumatera
Barat ? Dengan kata lain, mengutip gaya
seorang pejabat, “Imbalan yang diberlakukan saat ini perlu ditinjau kembali.”
Masalah imbalan pula yang
menyebabkan adanya berita tanpa sedikit perbedaan dalam redaksi kalimatnya
dengan media cetak lain masih suka menghiasi Kaba Luhak Nan Tuo. Padahal sebagai media bulanan, hal ini tidak
perlu terjadi kecuali mau menghidangkan santapan basi kepada pembaca. Kalau masalah ini masih terus terjadi maka bukan
tidak mungkin kaba Luhak nan Tuo yang terbit dengan anggaran yang tidak sedikit
ini hanya menjadi rebutan karyawan hanya sebatas sebagai pembungkus
pakaian.
Memang tulisan copy-paste itu
berangsur berkurang dan saat ini menjadi sangat sedikit. Tetapi jauh-jauh hari nenek-moyang telah
mengingatkan, “karena nila setitik, rusak susu sebelanga.”
Jeda yang relative lama antar
penerbitan juga memungkinkan Kaba Luhak Nan Tuo tampil lebih sempurna. Selain bisa menyeleksi berita dan artikel
yang memenuhi syarat juga penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar lebih
mungkin diterapkan. Bukan berarti bahasa
daerah tidak boleh dipakai, tetapi dengan dicetak miring seprti halnya istilah
asing.
Kalau ditilik kepada media
local yang lain, harus diakui bahwa penggunaan bahasa Indonesia memang sangat
rendah kualitasnya. Susunan kata yang
sering membingungkan pembaca masih kelewat banyak, apalagi pemenggalan kata
yang asal potong. Kaba luhak Nan Tuo pun
karena masih sangat tergantung kepada tim dari percetakan melakukan hal yang
sama.
Padahal sebagai media dengan
ongkos cetak sangat tinggi, redaktur Kaba Luhak Nan Tuo bisa saj mendapatkan
out-line dari setiap penerbitannya untuk dikoreksi ulang, baru kemudian dicetak
dalam jumlah banyak. Atau dengan sedikit
anggaran tambahan untuk membeli perangkat keras,sehingga semua kegiatan
pra-cetak dapat dilakukan sendiri. Bukan
hanay bisa menghemat bias cetak tetapi juga kualitas bahasa yang lebih baik.
Penggunaan bahasa yang benar
akan sangat baik untuk bacaan anak sekolah.
Tetapi selama bahasanya masih belang-bentong,
cukuplah menjadi pajangandaripada turut berperan merendahan nilai Bahasa
Indonesia mereka.
Terbit bulanan pula yang
menyebabkan tampilan Kaba Luhak Nan Tuo harus berbeda dari yang lain. Berita-berita yang selama ini mendominasi
akan sangat terasa basi kalau penyajiannya seperti suratkabar harian. Diperlukan cara penyajian yang dapat membuat
berita menjadi menarik untuk dibaca, sekalipun sesungguhnya pembaca sudah
terlebih dahulu tahu dari media lain. Menyajikan
sebuah berita dalam rangkaian cerita akan membuat ke-basi-an berita terbias
dalam buaian kata. (catatan : hal ini mengingatkan saya, betapa tingginya
daya-baca masyarakat Kabupaten Tanah Datar khususnya dan Provinsi Sumatera
Barat pada umunya).
Untuk mewujudkan semua itu
tidaklah mudah, tetapi akan dapat dilakukan apabila terus berusaha. Salah satu yang teramat penting adalah
peningkatan kemampuan sumberdaya manusia yang ada. Tidak dapat dipungkiri kalau sebagian besar
pengelola Kaba Luhak Nan Tuo adalah pemegang Kartu PWI, tetapi apakah itu
menjamin untuk membidangi media bulanan yang jelas-jelas sangat berbeda dengan
media harian ?
Oleh karena itu diperlukan
tambahan pengetahuan, misalnya dengan mengikuti kursus jurnalistik yang salah
satu materinya mengupas manajemen terbitan berkala. Selain itu, pengadaan seperangkat computer
lengkap sudah sangat mendesak karena sangat dibutuhkan saat ini.
Dalam setiap kelahiran bayi
pertama dan kedua seorang PNS, segeralah orangtuanya mengurus Akta Kelahiran
agar bisa diurus untuk mendapat tunjangan keluarga. Namun balita bernama Kaba Luhak Nan Tuo
seakan dilupakan orangtuanya yang notabene PNS.
Sekalipun sudah menginjak 3 tahun, belum juga memiliki identitas diri,
sampai sekarang SIUPP-nya belum nongol.
Padahal di era kran kebebasan
pers dibuka lebar-lebar seperti sekarang ini, banyak sekali media cetak yang
SIUPP-nya sudah ada sekalipun ayah dan ibunya masih dalam tahap rencana
melahirkan media cetak.
Terlepas dari anggapan bahwa
terbitnya SIUPP akan mengurangi tunjangan (berkebalikan dengan Akta Kelahiran
anak seorang PNS), dengan adanya SIUPP berarti pembaca yang dapat menikmati
Kaba Luhak Nan Tuo makin terbuka lebar.
Bisa dipasarkan berjejer dengan berbagai terbitan nasional. Masyarakat Luhak Nan Tuo pun akan mendapatkan
informasi yang seimbang diantara maraknya serbuan berita nasional dari media
terbitan Ibukota. Pembaca lokal butuh
pegangan diantara saling-silang yang tidak jarang mendiskreditkan.
Masih banyak hal lain yang
perlu dikoreksi tanpa melupakan karunia-Nya, beberapa kelebihkan telah
dilimpahkan. Semua bukanlah untuk
dibanggakan, apalagi jika keunggulan di tangan itu bisa membuat lupa daratan.
Korek dan koreksi diri
sangatlah terus diperlukan selama hayat dikandung badan ….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar