Tidak ada manusia yang pernah meremehkan
peran-mu,
kecuali mereka yang termasuk golongan bukan
manusia !
Ibu. Begitu
besar makna tiga huruf itu bagi kelangsungan perputaran roda bumi sehingga
penghuninya sangat mengagumkannya.
Dalam
tangis, anak kecil memulai isaknya dengan, ”Ibu...! Keselamatan disyukuri sebagai, ”Berkat doa
Bunda,” Ketidaksengajaan dan keterkejutan pun diselingi, ”Duh, Biyung !” ”Akh,
Ibu”. Juga menjadi awal kesalahan yang tetap dijalankan. Masih banyak kejadian
lain yang menyentakkan hati nurani lebih sering membuat latah,”.....Ibu”.
Ibu pun
merupakan suatu gelar kehormatan yang disandang seorang istri. Orang rumah Pak
Lurah otomatis dipanggil Bu Lurah. Istri Pak Guru tidak sedikit memanggilnya
sebagai Bu Guru. Tidak ada pembawa acara
yang berani menolak bila harus menyebut pendamping setia Pak Gubernur sebagai
”Ibu Gubernur yang kami hormati”.
Namun
sebaliknya kepada pendamping hidup Ratu Britania Raya di singgasana, tentu
tidak akan ada wartawan yang menulisnya sebagai ”Raja Inggeris” karena artinya
bertolak belakang. Demikian juga suami Bu Desa tidaklah patut disebut Pak Desa
karena sekalipun setiap hari beliau hadir di Kantor Kepala Desa bukan untuk
ngantor tapi untuk ngantar isteri ngantor.
Penghargaan
untuk ibu bukan hanya sampai di situ, hubungan personal semata, tetapi terkait
dengan hal lain sehingga melahirkan berbagai pesonifikasi. Penduduk negeri nan
indah permai bak hamparan zamrud di katulistwa ini denan bangga menyebut tanah
leluhurnya sebagai Ibu Pertiwi. Penghuni Batavia juga lebih senang menyebut
dirinya tinggal di Ibukota, sama sekali bukan Ibukota Kecamatan ataupun Ibukota
Kabupaten atau bahkan Ibukota Provinsi DKI Jakarta.
Dunia sana punya
The Mother’s Day. Selain itu, negeri permai ini punya hari khusus untuk kaum
ibu, yang diperingati setiap tanggal 22 Desember seperti yang baru saja kita
peringati bersama yang belum lama ini. Terlepas dari anggapan bahwa hari yang
lain adalah milik bapak-bapak toch sampai sekarang tetap tanpa peringatan hari
Bapak. Pencetusan Hari Ibu merupakan
pengejawantahan dari penghargaan yang sangat tinggi terhadap ketulusan seorang
ibu.
Makna ibu
sedemikian agung, tetapi berbeda nasib dengan ciri, sifat serta fungsi ibu
sendiri. Di KTP ibu-ibu di tulis jenis kelaminya wanita, ada juga yang
menuliskannya sebagai perempuan. Biodata yang dibagikan kepada peserta
penataran-penataran sering mencantumkan status kawin/janda tetapi jarang yang
menyertainya dengan kata duda buat pilihan janda jantan.
Konotasi
negatif diarahkan orang bila kata ”wanita” disebut. Ada Wanita Tuna Susila
(WTS), buat penghibur pria hidung belang yang lebih favorit daripada PTS, Pria
Tuna Susila yang boleh jadi jumlahnya lebih banyak lagi bahkan bisa jadi pabrik
WTS. Padahal kata WTS tidak selalu miring, bisa jadi sebutan yang pas untuk
istri-istri yang ditinggal merantau oleh suami tercinta Wanita Tinggal Suami,
demikian juga pas untuk gadis tetangga yang wajib dilirik- Wanita
Tetangga Sebelah.
Wanita
sering dipanjangkan sebagai ”wani ditata” yang artinya bisa diatur alias bisa
dibentuk sesuai keinginan, sehingga banyak ibu-ibu yang tidak mau menulis jenis
kelaminnya dengan wanita. Banyak yang lupa, ada Polisi Wanita yang dikenal
lebih konsisten dalam menjalankan tugasnya daripada yang tanpa embel-embel
wanita.
Denikian
juga kata ”perempuan” tidak lebih baik nasibnya daripada kata wanita.
Per-empu-an, dapat di-empu-kan- persembahan, dapat dipersembahkan. Tidak sedikit yang
terpengaruh oleh pandangan sinis Motinggo Busye dalam romannya ”Perempuan” yang
menceritakan perempuan pendamping hidup Maeda sebagai mahluk misterius yang
dengan bangga dapat menari-nari lemah gemulai di balik kelambu perih dan derita
suami yang sebenarnya sangat tahu apa yang selalu dilakukannya.
Sekarang
dikalangan jet set populer istilah PIL yang lebih diartikan sebagai Perempuan
Idaman Lain daripada Pria Idaman Lain yang menjadi penyebabnya. Tidak kalah
negatifnya istilah perek (permpuan eksperimen) untuk menggantikan sebutan WTS.
Bagi yang cuma sekedar bisa dipandang disebut sebagai perek juga, perempuan
eksotis. Demikian juga kalau tingkatnya dianggap sedikit ganjil yang bisa
dijadikan pengamatnya kelewat usil, permpuan eksentrik.
Banyak yang
lupa perek-perek yang lain, yang sangat berjasa memanjakan sesama mahluknya
dengan barang-barang elektronik yang tercipta dari kepiawaian tangan trampil
mereka, perempuan elektro yang banyak bekeja di berbagai perusahaan
elektronika.
Status
janda, terutama yang cantik dan kaya akan segera diarahkan ke makna yang sangat
buruk- terutama oleh
mereka yang merasa tersaingi, sebagai penggoda suami-suami daripada bahan
koreksi para ibu dalam melayani para suami yang tanpa di goda sekalipun sudah
lebih dulu menggoda karena sangat tergoda. Padahal status demikian tentu
bukanlah harapan seorang istri, bahkan mungkin tidak terbayang tentunyakan
sebelumnya. Apalagi dulu, saat-saat indah merangkai kata berencana untuk
membentuk sebuah bahtera rumahtangga. Dia adalah tamu tak diundang yang datang
dan memaksakan diri untuk disandang. Apapun sebabnya.
Ironisnya
ejekan kepada para janda yang lanjut usiapun tidak kalah menyiksa. Tidak banyak
yang berfikir, bahwa tanpa ibu yang merelakan suaminya berlaga di medan juang,
tanpa ke ikhlasan mereka bila memikul gelar yang sering menjadi bahan cemoohan
itu, maka Taman Makam Pahlawan yang sampai sekarang masih banyak lowongan itu
akan lebih kekurangan penghuni lagi.
Istri-istri
yang jelas-jelas punya suami sekarang dapat juga diartikan menyimpang. Istri
simpanan makin jadi sorotan tetapi kameramen lupa atau pura-pura tidak tahu,
siapa orang yang menyimpan istri bahkan digambarkan sebagai monster yang
menakutkan. Sementara suami-suami yang
penuh pengertian akan kebersamaan dalam mengarungi lautan kehidupan
berumahtangga dianggap sebagai angota ISTI, Ikatan Suami Takut Isteri. Tauladan
dari Siti Khodijah, istri Nabi Muhammad SAW sering dilupakna.
Dalam lajang
awalpun, sebelum menjadi seorang istri, calon ibu yang disebut sebagai perawan
sering menjadi bahkan gunjingan. Bukan terpengaruh ”Perawan di Sarang Penyamun”
atau pun keberhasilan detektif swasta dalam ”Mencari Pencuri Anak
Perawan”. Mereka yang baru tumbuh
dewasa itu disebut juga ABG, Anak Baru Gede, suatu sebutan yang seharusnya juga
diberi kepada anak laki-laki yang baru minginjak akil baligh. Demikian juga ada
yang mengolok-olok dengan kepangkatan militer, Prada dan Pratu. Jarang yang
melirik kilas balik perjuangan perawan suci Maryam yang melahirkan Utusan
Allah, Nabi Isa a.s.
Kembali ke
soal ibu-ibu yang begitu berat fungsi dan tugasnya- sekalipun sekarang bisa tidak berkurang
karena tidak langsung menjadi ketua Organisai ini-itu dan sebagainya. Seorang
ibu mantan walikota mengungkapkan bahwa tugas yang paling membebaninya adalah
tugas sehari-hari di rumah. Kewajiban sebagai ibu rumah tangga.
Ibu tersebut
memang sarat dengan pengalaman bertahun-tahun menjadi ibu nomor satu di puluhan
organisasi. Beliau sangat menyadari tugasnya sebagai seorang istri.
”Rumah
tangga adalah nomor satu !” Begitu beliau selalu mengingatkan kami,” kata Bu RT
yang pernah dicatat penghulu sebagai seorang istri mantan Ketua RT kami
almarhum menimpali.
”Tugas-tugas
yang lain, sesulit apapun akan dapat diatasi dengan otak ataupun tangan.
Sendiri, berkelompok atau bisa juga minta bantuan orang lain. Namun soal beban
membebani, itu bukan sembarang masalah, Nak!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar