Mudik dari Batusangkar ke tanah Jawa selalu menjadi saat
yang dinanti. Apalagi menjelang akhir puasa. Lebaran, adalah hari terpenting
bertemu sanak-keluarga.
Seperti tahun sebelumnya, saat itu pun aku naik bus yang
kosong hampir tanpa penumpang. Kondektur pun tidak mematok harga tinggi, ongkos
biasa tanpa tuslah. Bahkan lebih murah, bus Kelas Eksekutif dengan bayaran
Ekonomi pun jadi.
Sampai melintasi Sungai Dareh bus hanya berisi 5 orang, tiga
diantaranya awak bus. Baru setelah sampai di Muaro Bungo, ada penumpang baru.
Usianya menginjak 50 tahunan. Logat bicaranya sangat kental Jawa. Kemungkinan
beliau transmigran dari Tegal yang hendak pulang ke kampung halaman.
Adzan maghrib pun tiba, kami menyantap makanan yang dibeli
sebelumnya. Alhamdulillah, berbuka puasa di dalam bus tak kalah nikmatnya
dengan di rumah makan. Sedangkan awak bus tentu sudah kenyang, mengisi perut
ketika hendak meninggalkan Ranah Minang.
Kalau sudah begini, penyakit kambuhan datang. Ngantuk.
Suasana bus yang sepi membawa kami larut tertidur dalam alunan musik melayu.
Entah sudah berapa lama tertidur, aku terbangun ketika jam
masih menunjukkan angka 11 lebih sedikit. Bus berhenti menderu. Bukan di rumah
makan seperti biasanya, tidak ada kerlip lampu warung sekalipun. Suasana begitu
senyap, sangat enak untuk melanjutkan tidur panjang.
Sampai akhirnya aku harus terbangun karena ada suara gaduh,
beriring suara sepakan dan makian kata-kata tak senonoh yang tak pantas untuk
didengar.
“Prang-prang-prang-prang-prang !” Bunyi bertalu-talu suara
logam tipis beradu dengan body bis.
Penumpang yang sedikit itu ternyata cukup untuk meramaikan
suasana yang gelap gulita itu. Anehnya, suara bus tetap tidak terdengar.
Demikian juga keramaian lalu-lintas tidak tampak. Tanpa sorot lampu dari rumah
makan. Tiada pengasong di sekitar bus. Hanya lampu alam yang tak bosan
menerangi seisi bumi.
Ternyata sumber kegaduhan adalah lelaki paruh baya yang naik
di Jambi itu. Beliau menyalakan obat nyamuk di dalam bus yang berhenti. Karena
tertidur dan kaget kakinya menyentuh ujung obat nyamuk, disepaklah pilinan anti
nyamuk itu. Kemudian mengenai awak bus yang langsung menendangnya balik.
Terjadilah tendang-menendang dan maki-memaki dalam kegelapan itu.
Tetapi, hikmah dari kejadian itu aku tidak terlambat menikmati
makan sahur yang kubeli dari rumah makan di perbatasan. Walau seadanya cukup
untuk menjalankan sunah bersahur dan Insya Allah menunaikan kewajiban berpuasa
hari itu.
Setelah itu, sulit rasanya memejamkan mata. Sudah terlalu
banyak tidur. Itulah yang menyebabkan aku akhirnya memberanikan diri untuk
keluar dari bus. Menembus kegelapan malam, menerjang kesunyi-senyapan malam.
Betapa kagetnya aku, pintu keluar bus pas di sisi jurang.
Dan sejauh mata memandang hanyalah warna hitam. Gelayut pepohonan tinggi
bergantian menghalangi cahaya bulan.
Aku tak sanggup keluar dari bus. Namun sempat berkeliling
dalam bus, melihat suasana sekeliling. Jalanan yang sepi tanpa pengguna. Tak
ada pejalan kaki di tepian jalan. Kiri dan kanan bus hanyalah hutan belantara.
Ternyata bus mogok sejak jam setengah sebelas dan bus baru
bisa meninggalkan tempat itu setelah jam 7 pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar