Di suatu saat,
negeri kaya raya dengan hasil alam melimpah
ini
pernah harus mengimpor minyak goreng untuk
masyarakatnya
yang sebagian besar harus hidup di bawah
garis kemiskinan ....
Yang dibaca
seorang sarjana baru pertama kali yang baru lulus dari almamater tercintanya -koran atau
tabloid atau majalah setebal apapun- tidak lain kecuali salah satu kata kunci ”lowongan”.
Entah makna
apa yang lebih jauh menusuk nurani dan menjadi sangat berarti dari makna
literlijk yang dikandungnya sehingga rangkaian delapan huruf tersebut sangat
menentukan masa depan seorang intelektual muda. Sehingga berbingar-bingarlah
hati ketika saat disibukkan membolak-balik halaman mencari judul iklan
tersebut, ada yang menawarkan lowongan sebuah pekerjaan yang sangat menantang.
Di pertamina pula.
Namun apa
daya, tidak semua sarjana dapat diterima di perusahaan BUMN itu. Tetapi tawaran
kali itu ternyata lain dari biasanya, semua jurusan bisa diterima. Akan
ditraining sebagai tenaga pemasaran. Marketing executive, sebuah posisi ujung
tombak bagi setiap perusahaan yang sangat menggelitik semua insan muda yang
menyukai tantangan.
Tenaga
marketing memang sangat menjanjikan. Bukan hanya penghasilan lebih yang dapat
dicapai (tentu saja tergantung prestasi) tetapi juga sarana yang diberikan
perusahaan biasanya maksimal. Anak emas perusahaan. Apalagi produk pertamina
adalah kebutuhan yang sangat diperlukan masyarakat secara keseluruhan, tentu
akan sangat mudah memasarkannya. Soal fasilitas, tentu saja lebih baik dari
pada perusahaan BUMN lain yang bila dikalkulasikan dari tahun ke tahun hanya
menggerogoti uang negara yang sudah kelewat baik.
Ternyata
bukan hanya sarjana, bahkan yang tidak pernah menginjak bangku sekolahan pun
dapat ikut meperebutkan tantangan itu. Bukan hanya yang pandai berdiplomasi
dalam meyakinkan konsumen, karena produk perusahaan ini dapat dipasarkan siapa
saja. Sampai yang gagap atau bisu sekalipun, sebab yang diperlukan hanya
meneriakkan satu kata atau menuliskannya besar-besaran, ’Minyak !’.
Terlepas
dari rumor yang menggelitik tentang sarjana baru di atas, kehidupan manusia
memang tidak bisa lepas dari benda bernama ’minyak’.
Plastik
tipis yang digunakan sehari-hari untuk membunkus ikan asin sekalipun berasal
dari minyak bumi yang diolah dengan teknologi modern, demikian juga aspal yang
menguatkan ataupun hanya mengotori jalan adalah bagian dari minyak bumi yang
telah lama digali dan diolah di negeri kita. Sekarang bahkan minyak bumi
dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga residunya pun dapat digunakan untuk
memperindah wajah yang sudah cantik, padahal selama ini terbuang atau bahkan
mengotori produk yang dihasilkan.
Melirik masa
lalu, nenek moyang kita pun sudah telah mewariskan berbagai macam minyak.
Minyak kelapa yang diolah dari kopra dengan cara yang sangat sederhana tetapi
sangat besar manfaatnya sampai minyak untuk kepentingan tertentu seperti minyak
nyong-nyong untuk mendekatkan satu hati ke hati lain yang menghendaki. Ada juga
minyak landak untuk mengobati luka dan borok yang tidak dapat disembuhkan
dokter -karena jaman mereka memang belum ada dokter. Selain itu
ada lagi minyak binatang yang lain seperti minyak lintah dan minyak kecoa untuk
kepentingan calon ibu dan bapak.
Sesuai
dengan perkembangan teknologi, maka minyak yang dikenal masyarakat pun sudah
dalam berbagai bentuk dan dari berbagai negara. Sejak bayi merah baru lahir
paraji yang menanganinya sudah mengenalkan mereka dengan minyak bayi atau yang
lebih populer dengan baby oil. Anak kecil pun sekarang bisa menikmati ekstrak
penghuni laut raksaksa yang ganas cukup dengan menelan butiran bening minyak
ikan. Yang dewasa lagi dapat memperindah rambutnya dengan minyak rambut.
Bau khas
yang menjadi ciri manusia hidup warisan leluhur yang melekat dengan keringat
pun dapat berubah setelah hidung menciumnya, dikelabui minyak wangi ekstra
melekat dan sebangsanya. Ketika ada yang tidak sadarkan diri untuk sementara
maka minyak kolonyo mengambil peranan. Bahkan saat jasad melepas dari alam
kehidupan untu selama-lamanya pun kepergiannya masih di iringi dengan minyak
wangi air mata duyung.
Ternyata
manusia semenjak hadir ke permukaan dunia menjemput hayat sambai akhirnya disholatkan
sebelum ditinggalkan sendirian di liang lahat tidak pernah terlepas dari benda
ajaib bernama ’minyak’.
Berbicara
tentang minyak dan teknologi, maka entah hanya sekedar rumor atau ejekan bahwa
negara kita ternyata beberapa langkah lebih maju. Bukan hanya mengolah minyak
bumi yang makin maksimal ataupun pemanfaatan sumber daya hayati sebagai bahan
ekstarak yang makin meluas tetapi juga penggunaan bahan baku non hayati yang
sudah dari dulu ada.
Minyak angin
adalah bagian kehidupan penghuni pertiwi.
Menurut sumber yang dapat dipercaya, selama perjalanan keliling dunia,
seorang pejabat mendapat kesulitan bahkan tertawaan ketika berusaha membeli
untuk bahan yang namanya air oil di apotik.
Tidak pernah ada. Apalgi tejual bebas di warung-warung kecil seperti
disini.
Di tengah
kencangnya promosi untuk mencintai produk dalam negeri ternyata justru makin
banyak beredar minyak import. Setidak-tidaknya import numpang nama semata. Minyak lintah dan minyak kecoa misalnya,
keduanya lebih dikenal para bapak dan ibu sebagai minyak Cina. Padahal sama sekali bukan produk asal impor
dari negeri Ho Chi Min tetapi hanya
buatan lokal. Seratus prosen produk
lokal, karena di Indonesiapun banyak kampung Cina, bahkan tidak jauh dari
Batusangkar ada juga Guguak Cino yang dilafalkan dengan bahasa Indonesia
sebagai Guguk Cina.
Sampai
sekarang, kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari minyak. Mungkin karena menurut perhitungan yang
menuturkan bahwa keberadaan manusia itu sendiri tidak pernah lepas dari minyak!
Itu hanya cerita, entah siapa narasumber
utama cerita itu, mungkin dari si Parni Hastjuti atau pun Parno Gentolet bin
Porno Amat.
Oleh karena
itu betapa keras jeritan ketika harga minyak naik, sebagai dampak hukum pasar
ataupun karena standar harga disesuaikan oleh pemerintah. Tak sedikit
mengundang protes. Tentu saja teriaknya akan lebih garang dan lantang
lagi. Apalagi minyak sempat menghilang
di pasaran.
Dari sekian
banyak yang menjadi jalan hidup ataupun melengkapi kehidupan manusia, maka
minyak goreng merupakan minyak yang paling dibutuhkan sekaligus paling gampang
naik. Sebagaimana minyak lainnya, minyak
goreng pun selalu mendapat kesulitan menurunkan harga dirinya.
Minyak
goreng atau orang Batusangkar dan masyarakat Minangkabau menyebutnya sebagai
minyak makan, sekitar dua atau tiga tahun lalu menjadi pembicaraan yang sangat
hangat karena harganya yang semakin menanjak.
Bahkan beberapa waktu yang lalu saat krismon menjadi bagian latah lidah
nenek-nenek sekalipun. Cairan pengisi
penggorengan ini sempat sembunyi dari bisingnya teriakkan ibu-ibu di pasar,
kalau tidak dibilang lenyap dari pasar dan disertai harga yang melambung
tinggi, kalaupun ada.
Problematika
kenaikan harga minyak goreng sebenarnya dari tahun ke tahun sama saja alias
sama mawon. Harga bahan baku Crude Palm Oil atawa minyak kelapa sawit yang
merupakan bahan baku minyak goreng sangat banyak diproduksi di Indonesia,
mencapai 4,5 juta ton per tahun. Kemudian kapasitas produksi pabrik minyak
goreng juga tidak sedikit, mencapai 4,0 juta ton per-tahun. Belum lagi minyak goreng yang diimpor atau
berbahan lain selain CPO itu, seperti minyak jagung, minyak zaitu, minyak
kedelai dan sebagainya.
CPO yang
dihasilkan perkebunan tanah negeri ini, 1,9 juta ton diantaranya diizinkan
untuk diekspor yang berarti kebutuhan untuk dalam negeri berkurang. Jangan harap kapasitas produksi pabrik minyak
goreng yang kekurangan bahan baku itu dimaksimalkan dengan CPO impor. Soalnya harga CPO di pasar internasional jauh
lebih tinggi daripada minyak goreng yang dihasilkan dalam negeri sekalipun.
Sebagai
bandingan, sekalipun pada dua tahun terakhir sempat dikenakan pajak ekspor
sebesar 40 hingga 70 prosen, pengusaha tetap meraih keuntungan yang menggiurkan
dengan mengalirkan CPO ke negeri seberang.
Nah, kalau demikian, tentu bisa saja bukan hanya 1,9 juta ton jatah
ekspor itu saja yang keluar. Maklum,
namanya minyak, daya kohesinya cukup tinggi.
Apalagi ditambah gaya tarik yang membengkakkan kocek.
Kalau
dipikir balik, dua tahun lalu, dimana uang mata uang Monica baru beberapa ribu
lebih sedikit saja pengusaha lebih memilih mengekspor CPO-nya yang notabene
disubsidi dengan pajak rakyat. Apalagi
saat sekarang, ketika reformasi bergulir dan kurs dollar setinggi Monica dan
berbanding terbalik dengan Ateng yang makin jungkir balik. Tidakmengherankan apabila minyak goreng makin
hengkang dari pasaran dalam negeri.
Sekalipun ada, harganya susah direm seperti halnya ibu-ibu yang sangat
sulit mengurangi laju keinginannya menggunakan minyak goreng diantara kepul
dapurnya.
Minyak goreng
bersama saudara lain pabriknya, mentega, merupakan salah satu bahan pokok yang
sangat diperlukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ditetapkan dengan keputusan Menteri
Perindustrian dan Perdagangan nomor 115/MPP/Kep/2/1998 tanggal 27 Februari
1998, minyak gorang dan mentega sebagai salah dua bahan pokok dari sembilan
bahan pokok setelah beras dan gula pasir.
Kemudian baru disusul daging sapi dan ayam, telur ayam, susu, jagung,
minyak tanah dan garam beryodium.
Di tengah
krisis yang terus membuntuti, harga minyak goreng juga bervariasi menyesuaikan
dengan keadaan. Sungguh
bertolak-belakang dengan penghasilan masyarakat yang relatif tetap atau bahkan
makin berkurang, kecuali bagi sebagian petani yang disaat seperti ini justeru
sedang menikmati harga produk perkebunannya yang sangat melambung. Tidak ada kata yang lebih tepat kecuali
berhemat !
Menghemat
minyak goreng berarti menghemat dalam banyak hal. Bukan hanya minnyak goreng cair yang dapat
dibeli saat pasar murah dan disimpan lamadalam drum sampai tengik. Tetapi juga harus memikirkan masa depan,
menghemat biaya kesehatan akibat mengkonsumsi lemak tak jenuh. Mulai dari obesitas yang membuat badan
semakin gembul dan berat, jerawat yang ringan sehingga dengan mudahnya menempel
di hidung remaja, sampai beberapa gangguan kesehatan lainnya yang berhubungan
langsung dan tak langsung dengan konsumsi minyak goreng.
Mengurangi
pemakaian minyak goreng tanpa mengurangi nikmat masakan memang tidak mudah
tetapi akan sangat banyak manfaatnya untuk meningkatkan nikmat sehat. Menggunakan minyak goreng secara
berulang-ulang juga bukan bukan cara penghematan yang tepat. Bahaya kanker mengincar konsumen yang umumnya
tidak tahu pasti kalau minyak goreng yang digunakan adalah jelantah.
Kalau upaya
yang ditempuh untuk menghemat tidak tepat dan menjadi rawan kanker maka buka
lagi menghemat namanya. Apalagi kalau
tidak ada usaha untuk melakukan penghematan, apalagi disaat sulit seperti
sekarang ini. Kanker ganas yang lebih
ganas dari yang paling ganas siap mengintai.
Bisa-bisa
kantong kering atau kata Dewi Sukarno, ”Saku rata !” alias indak bapitih
....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar