Demo, demo dan demo.
Setiap hari ada demo,
itulah keadaan kita saat menuju orde impian,
repot-nasi,
eh ... reformasi.
Intelek dan
in Telek adalah dua buah kata yang boleh saja dibilang ’bagai pinang dibelah
dua’ dengan mandau karatan, tumpul pula. Jadilah kedua belahannya tidak saling
sama.
Dalam kamus
umum bahasa Indonesia (KUBI) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI, tertulis, bahwa intelek dapat diartikan sebagai daya atau proses
pikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan, daya akal budi,
dapat juga diartikan sebagai terpelajar atau cendekia.
Sedangkan in
Telek adalah dua kata yang tidak hanya mengandung kesatuan arti tetapi juga
asal muasalnya dari dua negeri yang saling berjauhan. In sendiri berasal dari
negeri Tante Elizabeth dan Telek adalah salah satu kata yang ada dalam bahasa
sehari-harinya Si Mas yang beratnya tidak pernah dinyatakan dalam gram.
In artinya
di dalam dan Telek kira-kira analog dengan ransum bermutu tinggi yang di patuk
ayam, selanjunya mengalami proses biologis yang sedemikian rumit dalam tubuh
dan setelah zat-zat yang berguna untuk hajat hidupnya sebagian besar terserap,
ya.....dikeluarkan! Kira-kira begtulah telek dan jadilah telet untuk sebutan
jelek-jelek.
Lantas apa
hubungannya dengan demonstrasi? Sekali lagi, kata KUBI yang sama, demonstrasi
adalah pernyataan proses yang dikemukakan secara massal atau unjuk rasa. Suatu
kegiatan yang sedang marak akhir-akhir ini.
Tidak boleh
dilupakan bahwa sangat besar peran demonstrasi dalam perjuangan berdiri dan
tegaknya Orde Baru yang penuh liku-liku. Kalau diumpamakan Orde Baru adalah
suatu mahluk dengan sejuta nyawa, maka tidak kurang dari puluhan atau ratusan
bahkan ribuan nyawa cadangannya adalah demonstrasi.
Demonstrasi-demonstrasi
intelek yang dilakukan para cendekia yang digodog dalam Kawah Candradhimuka,
penuh pemikiran murni dan jernih menyebulkan inspirasi suci dalam menjalankan
roda kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun
demikian tidak boleh dilupakan atau diabaikan, bahwa demonstrasi intelek pun
bisa tiba-tiba berubah menjadi demonstrasi in Telek. Karena dalam ketertiban
unjuk massal cendekia muda dengan misi sucinya sering menyusup oknum-oknum yang
sengaja ataupun tidak sengaja tetapi dapat merusak keluhuran perjuangan
mahasiswa, memanfaatkan situasi untuk perut yang perlu diisi dengan sedikit
aksi atau cuma sensasi.
Demonstrasi
intelek mempunyai misi yang berbeda dengan para demontrasi in Telek yang sering
tiba-tiba ada di tengah-tengah dan tidak
bisa dibedakan lagi (sekilas) dengan
para cendekia. Warga kampus membawa pemikiran idealis yang realistis, sedang
golongan penyusup berpola pikir kolonialis yang kapitalis, sehingga tidak
jarang merampas hak-hak orang lain seperti halnya penjajah dan tidak
segan-segan menjadi penjara dan tempat yang paling tepat buat mereka sebenarnya
bukan ikut dalam barisan demonstrasi intelek tetapi membuat aksi sendiri
berbondong-bondong masuk penjara.
Penyusupan
pendatang gelap dan akibat-akibat yang ditimbulkannya dalam unjuk rasa bukanlah masalah baru. Sejarah negeri ini
mencatat suatu kejadian yang tidak boleh dilupakan, Malari. Peristiwa yang
hampir membumihanguskan Ibukota tercinta dan seluruh negeri ini.
Malapetaka
15 Januari, tepatnya terjadi tahun 1974. Yang semula hanya aksi mahasiswa di
lingkungan Kampus Kuning. Kemudian turun ke jalan penuh yel-yel tapi akhirnya
masuklah para intelek diantara gegap gumita langkah intelek dan suasana menjadi
huru-hara yang brutal. Perusakan pembakaran dan penjarahan!
Sementara
Hariman Siregar, Sang Singa Dewan Mahasiswa The Yellow Jaclet (DM-UI), jadilah
Bung kita ini bak singa ompong yang tidak lagi dapat mengendalikan massa yang
semula digerakkannya. Karena memang sebagian bukan lagi massanya, para singa
kampus. Fatalnya gigi palsu buat sing belum ada atau tidak ada yang mau ambil resiko
untuk memesangkannya? Sudah bisa ditebak, tak lama kemudian perintah penahanan
terhadapnya turun langsung dari Pangkopkamtib Jendral Soemitro. Jadilah Bung
gagah kita Penghuni Hotel Prodeo.
Salah satu
arsitek Orde Baru yang baru saja meninggalkan kesemua fana ini menghadap Sang
Kholiq, Jendral Soemitro mewariskan Kepada kita catatan kejadian yang sangat
memprihatinkan dan tejadi hampir 2 windu yang lalu itu scara rinci, gambalng
dan jelas dalam ”Pengkopkamtib Jendral Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 1974”
yang diterbitkan sebuah penerbit di Jakarta.
Belajar dari
sejarah maka par cendekiawan muda dalam menyampaikan aspirasi sucinya bukan
bukan hanya harus tetap lurus dalam jalur ke-intelekkannya tetapi juga harus
membentengi barisannya dari para intelek yang punya niat jelek. Pagar betis
lengan dan pikiran!
Yang lalu
biarlah berlalu sekarang tinggal penghuni kawah candradimuka wujudkan suatu
penyampaian aspirasi yang intelek dalam situasi yang intelek pula, sehingga
semuanya benar-benar menunjukan ke-Intelekan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar