Temanku bilang, "Sekarang semua sudah
berubah !"
Syukurlah,
Awal reformasi, Prit Ceban,”
Sekarang, ”Prit Goban !”
Prit adalah mahluk unik dengan gelar yang selalu berkembang, tumbuh seirama
kesejahteraan masyarakat dan goyang dollar Amerika Serikat. Sebelum krismon,
nama lengkap prit goceng. Dulu sempat bergelar seceng setelah sebelumnya
menyelesaikan program gope. Dulu-dulunya, bisa cepe atau gope ataupun jigo atau
malah masih berakhiran tun-tun-an yang sama sekali tidak bisa dipakai sebagai
pedoman.
Beberapa tahun lalu namanya hampir berubah menjadi prit goban atau bahkan prit cape-ceng atau bahkan prit
cetiau berkat restu Undang-Undang lalu lintas yang lebih sering ditayangkan
sekilas dan hanya dimengerti kalangan terbatas sehingga sangat ampuh sebagai
sarana penindas.
Prit ceban, jangan mencoba mencari padanan kata di kamus lengkap Hasan
Sadely atau Kamus Besar Bahasa Indonesia Lukman Ali ataupun Jus Badudu yang
kelewat tebal. Tidak akan ketemu, sekalipun keduanya sudah sangat akrab dengan
telinga masyarakat Indonesia.
Prit adalah prit, bunyi tetap peluit yang biasa jadi senjata polisi untuk
mematahkan niat lawan. Mengendor urat gas yang lebih sering tegang sekalipun
tidak pernah dikasih warga, mengingat wajah seram untuk tidak asal tabrak rambu
mati, awal dari proses lanjutan yang sering harus berakhir dengan campur tangan
Srikandi Tjut Nyak Dien, lembaran ceban.
Prit ceban seperti banyak dilakukan sungguh beralasan, seperti yang dituturkan
seorang pengeprit di jalanan. Soalnya, untuk bisa prit-mengeprit itu orang tua
mereka sempat rela nggak makan makanan tambahan, sawah digadaikan dan bebagai
tindakan dilakukan demi masa depan anak dan kemenakan. Kalau sudah demikian,
bagaimana lagi, kecuali ambil tindakan pengamanan untuk merintis jalan
pengembalian. Ironisnya, prit ceban dengan terpaksa dilakukan karena harus
mengejar sinkron.
Prit ceban boleh saja dianggap sebagai hujatan yang menyakitkan bagi
keluarga besar polisi negeri ini, tetapi itulah kenyataan yang sudah terjadi
dan sudah bukan rahasia lagi dalam suatu razia di jalan raya. Resmi atau tanpa
surat perintah komandan, pengendara tidak perlu bertanya karena yang resmi bisa
jadi langkah kunci untuk menang remis dan surat perintah komandan bisa
diplesetkan menjadi surat perintah komandan... soal pengisih titik-titik,
sangat beraneka, tergantung kebutuhan. Bisa juga kebutuhan akan sembako atau
se-hisap rokok karena saku berkokok.
Prit sudah sangat melekat dengan kehidupan kepolisian yang sudah lebih dari
lima puluh tahunan. Tumbuh berkembang sesuai perkembangan zaman seperti halnya
polisi negeri ini yang sering mempraktekkan teori demokrasi sebagai sing gede diemek, sing cilik dikerasi (yang
besar dipegeng, yang kecil digencet).
Prit ceban juga jadi alasan untuk tidak mensyukuri gaji bulanan yang rutin
didapatkan. Padahal kalau dihitung-hitung sudah cukup lumayan. Apalgi kalau
ditambah bergagai tunjangan yang dapat melengkapi kebutuhan keuangan.
Prit bukan hanya mahluk yang berganti gelar dan wajah samaran, tetapi juga
selekif sehingga terkesan sering pilih pandang bulu. Teman instruktur P-4 pernah mengalaminya,
ketika di-prit dari kedai rokok (rupanya sumber kerindangan adalah bayangan
dinding seng). Tunjukin salah sana salah sini, akhirnya UUD juga.
Ujung-ujungnya damai dan mungkin akhirnya akan mengarah kepada kepanjangan yang
lain. Untungnya, instruktur itu baru saja memberikan materi almamater yang
mengasuh mereka dengan banyak teori yang kini sudah banyak berceceran sepanjang
jalan atau bahkan telah dilupakan. Ditunjukan surat resmi bercoret-coret
komandan. Sekali lagi berlaku UUD, ujung-ujungnya dibebaskan.
Prit ! Itu zaman dahulu, paradigma lama, sebelum reformasi bergulir.
Sebelum polisi memisahkan diri dari ABRI. Sebelum mereka memproklamirkan diri
untuk lebih mandiri.
Prit mulai ditiup keras, mulai 10 April lalu memang polisi keluar dari
ABRI. Kembali bertekad jadi pelindung, pengayom masyarakat tanpa mengenal
pendekatan kekuasaan. Back to basic, sesuai dengan fungsinya dulu. Sebelum di
paksakan menjadi angkatan yang kehabisan kekuasaan. Sampai ada anekdot,
bukankah darat sudah dibooking Angkatan Darat, demikian juga Angkatan Laut
menguasai ombak samudra dan juga udara bebas dicarter Angkatan Udara? Dimana
kekuasaan polisi? Di ketiga wilayah kekuasaan angkatan. Sesuai dengan namanya,
polisi..... si Darat, si Laut, dan si Udara.
Prit juga untuk penghargaan kepada jago tembak jantung hati yang bikin
lawan tersungkur mati. Karena itulah yang membedakan para angkatan dengan
polisi, menembak bukanlah selalu untuk membunuh tetapi membikin lumpuh, hanya
melukai sehingga sasaran yang tepat adalah tangan dan kaki.
Prit terhadap pembuatan yang selalu menunjukan organisasi sebagai bagian
dari korps kepolisian. Sebab polisi
lahir dari rakyat, hidup dengan uang rakyat dan pada akhirnya harus kembali
lagi merakyat.
Tamtama, bintara ataupun perwira kepolisian adalah bagian dari masyarakat
yang harus menyadari arti penting bahwa di negeri demokrasi ini rakyat adalah
sumber segalanya, seperti kata orang Singapura, ”Our people are, and
always will be, our most precous
reources.” ( Rakyat kita adalah, sumberdaya kita yang paling berharga ).
Prit! Citra jelek polisi dimata masyarakat harus segera diakhiri. Stop
perkembangan noda hitam kepolisian yang sering menjadi kebanggaan sekaligus
pembatas dengan lingkungan. Loyal keatas, dibawah tindas. Target dan upeti
adalah peti mati yang dipersiapkan sendiri, kecuali tanpa tekad untuk makin
mandiri karena masyarakat sudah semakin mengerti dan berani, berkat reformasi
disana-sini.
Prit keras untuk polisi didekatkan dengan kolusi, yang harus dimulai dari
koreksi diri. Hilangkan watak kolu ngepusi (tega menipu) terutama terhadap diri
sendiri. Muaranya adalah pada mentality yang berjalan dalam rel public morality
(etika sosial). Tanpa itu, polisi hanya akan jadi biang polusi.
Prit, minggir. Minggirnya AKPOL dari AKABRI misalnya, hendaknya bukan mengurangi jumlah mata pelajaran yang menurut
mantan Gubernur Akpol Kusparmono Irsan tidak dibutuhkan oleh polisi, tetapi
juga menuntas habiskan calon sisiwa yang masuk melalui jalur kiri. Kalau saja
masih terus terjadi, maka setelah hengkang dari kawah candradimuka juga akan
tega ngapusi.
Demikian juga penanaman public morality harus lebih ditekankan sehingga
para lulusannya sadar bahwa segala jenis penyimpangan selalu diiringi dengan
biaya sosial tidak murah, dan yang menanggungnya adalah rakyat yang tidak lain
ibu kandung dari polisi itu sendiri. Hal ini bukan hanya sangat diperlukan para
siswa, tetapi juga pelajar yang menempuh karir kepolisian via tamtama ataupun
bintara. Toh mereka semuanya pada akhirnya kembali kemuara sama merakyat.
Prit! Hentikan organ kekuasaan sebagai senjata, jangan jadikan kokang
sebagai senjata panglima. Tetapi polisi harus menjunjung tinggi moralitas dan
etika kalau mau sejalan dengan petuah Jendral Douglas Mc Atur ”Old soldier
never die, they just fade away”. Kecuali sudah bertekad untuk tidak akan
kembali kepada masyarakat setelah habis masa tugas nanti akibat rakyat tidak
menghendaki.
Prit! Bersiaplah kini untuk di-prit pihak lain. Terbuka menerima saran dan
pendapat untuk kemajuan dan kemandirian kepolisian yang dicita-citakan.
Dengan membuka lebar-lebar pintu kritik, telah mengajak masyarakat turut
menjadi pemilik.
Prit!. Viva Polri dan selamat hari Bhayangkara.
Prit, Prit, Prit !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar