Ibuk Maimunah, isteri Bapak Harun Al
Rasyid yang mantan Bupati Kabupaten Dati II
Tanah Datar zaman pergolakan dulu, pernah menceritakan tentang kecanduannya
berbelanja di sebuah toko yang sama sekali bukan milik urang
awak.
“Baru di pintu, pelayannya sudah
menghampiri dan menyapa sopan.” Beliau
memulai pembicaraan, “Atau kalau mereka semua sibuk dengan pembeli yang lain
maka si-empunyanya terjun langsung.
Dengan sabar pula melayani sesuai kebutuhan dan tidak mengeluh, apalagi
marah karena sudah direpotkan.”
Dilain pihak, Bundo Kanduang itu juga
punya pengalaman yang sangat sulit dilupakannya saat berbelanja di Pasar
Kampung Jawa (tentu saja tidak ada di peta Pulau Jawa !), tepatnya di sekitar
Matahari Departemen Store – Padang.
Ketika itu beliau datang ke sebuah toko
busana, tidak ada tanda-tanda bahwa pemuda yang ada di toko itu ada perhatian,
sekalipun mereka sesungguhnya seorang pelayan.
Terus sahut-sahutan satu sama lain.
Ketika ditanyakan harga sebuah barang, salah satu diantara mereka
langsung menghampiri. Tetapi, sebelum
sebuah katapun terucap, masuklah seorang gadis dan segenap perhatian para
pelayan pun tertuju kepadanya. Sama
sekali tidak peduli calon pembeli yang sudah sedari tadi menunggu jawaban. Pada saat itu juga beliau hengkang dengan
penuh kesal dan bersumpah untuk tidak datang lagi ke toko itu !
Dari pengalaman di atas dapat ditarik
sebuah pelajaran, perlunya pelayanan yang baik bagi setiap konsumen. Salah satu strategi yang dapat ditempuh
adalah menerapkan budaya antri. Antri
dapat dikaitkan dengan menunggu, sebuah pekerjaan yang sangat membosankan
seperti kata pepatah.
Namun demikian ada juga yang tidak mau
antri gara-gara poster MINOLTA yang menggambarkan “Antri Dooooong”- nya dengan
DOD (Day-Old-Duck), anak bebek umur sehari yang berduyun-duyun.
Pelayanan merupakan unsure utama yang
sangat menentukan dalam keberhasilan suatu usaha di bidang barang ataupun
jasa. Sebab dari pelayanan itulah mereka
hidup . Dengan kata lain, pelayanan
adalah nyawa mereka yang sesungguhnya.
Adegium lama selalu mengingatkan,
konsumen adalah raja. Hal ini tidak
hanya berlaku bagi dunia usaha tetapi juga dalam pemerintahan yang merupakan
pelayan bagi masyarakat. Dalam hal jual
beli seperti cerita di atas maka rajanya adalah pembeli, sementara dalam
pelayanan kepada masyarakat maka yang menjadi the king of the king adalah rakyat
!
Namun demikian, dalalam kehidupan
sehari-hari malah terjadi sebaliknya.
Penjual buah-buahan di Pasar Batusangkar misalnya, tidak jarang
mengumpat dengan kata-kata tak sedap kepada calon pembeli yang menawar barang
dagangannya yang dihargakan mereka setinggi langit. Demikian juga oknum aparat, masih terlalu
banyak yang masih rela mengombang-ambingkan dalam melayani masyarakat agar
dianggap orang penting.
Padahal di era Otonomi Daerah yang
dititikberatkan di daerah Tingkat II maka pelayanan kepada masyarakat harus
sebaik mungkin untuk dapat mendongkrak PAD.
(Catatan: Kabupaten Dati II Tanah Datar merupakan Kabupaten/Kota Otonomi
Daerah Percontohan terbaik di negeri ini, jadi ketika tulisan ini dibuat (Juli
1999) sudah beberapa tahun menjalankan otonomi daerah).
Sehingga sangat ketinggalan zaman kalau
masih berpedoman pada istilah “Kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah
?” Jika masih memegang adegium lama
seperti itu, jangan harap bisa melayani masyarakat secara memuaskan. Tragisnya, kadang-kadang, kalau tidak
dibilang –betapa sering, urusan sesame korps pun masih di bawah garis kepuasan.
Oleh karena itu, sudah saatnya adegium
lama itu diputar-kata menjadi kalimat yang sangat mudah diucapkan tetapi
teramat sulit dilakukan “Kalau bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit ?”
Pelayanan sector swasta sering
diagungkan pun banyak dijumpai kejadian yang tidak seindah gaungnya. Padahal seperti dikemukakan di atas,
kehidupan mereka tergantung pada pelayanan yang diberikan. Misalnya, antrian pengambilan gaji di sebuah
bank swasta ternyata lebih menyiksa daripada rangkaian panjang pembayaran
rekening listrik di Kota Budaya ini.
Sebab utamanya adalah pelayanan yang
dikaitkan dengan budaya antri. Kalaulah
yang datang duluan harus ngantuk dulu di kursi tunggu dan mimpi sudah sampai ke
rumah dengan membawa uang bulanan, lumrah saja, mengingat banyaknya
nasabah. Tetapi, kalau saat yang sama,
tiba-tiba ada beberapa orang yang baru datang, dapat pelayanan langsung ekstra
cepat, mereka segera hengkang membawa harapan.
Sungguh luar biasa !
Apalagi tidak jarang kuliah terbuka yang
sangat memalukan biasa digelar, materinya yang itu-itu juga, “Nasabah
membludak, bukan hanya Saudara yang kami layani !” Sebuah ucapan yang semestinya diiringi
istighfar, mereka keberatan dengan banyaknya nasabah.
Jadi tidak selalu pelayanan swasta yang
sering diharapkan orang sebagai pelarian dari birokrasi yang sering dianggap
terlalu panjang-lebarnterkadang lebih menjengkelkan.
Belum lama ini ada nasehat yang
dilontarkan Profesor Emil Salim kepada seorang perantau dari seberang yang
merasa tertekan dengan perbedaan pelayanan tukang sayur di komplek tempatnya
tinggal antara kepada urang awak dengan pendatang, “Kalau mau bisa hidup di
sini, belajarlah cara mencerca seperti orang di sini. Sangat menusuk hati, bagi yang mengerti.”
Namun untuk kondisi sekarang, di saat
globalisasi akan datang menjelang, dimana persaingan akan berjalan sebagaimana
hokum pasar yang tidak akan lepas dari pelayanan, maka petuah Begawan Muda
Ekonomi itu sangat tidak realistis, kecualikalau yang sedang kita tuju adalah
zaman gombalisasi. Konsumen yang kena caruik akan dapat dengan mudah lari ke
pelukan Si Ramah. Lebih parahnya, mereka
pun akan menjadi agen promosi kebobrokan yang sangat ampuh.
Antri adalah bagian kecil dari
pelayanan, bukan harga mati karena masih banyak aspek pelayanan yang lain. Tetapi antri merupakan barang antik, gratis
tetapi sangat tak ternilai harganya.
Senilai dengan senyum pramugari Garuda yang sering mendapat kritik dari
banyak wisatawan asing, agar mereka ikut kursus senyum, karena sesungguhnya
mereka berasal dari sebuah negeri yang terkenal murah senyum !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar