Mengamati perkembangan
politik negara kita akhir-akhir ini tidak bisa dilepaskan dari krisis ekonomi
yang berkepanjangan yang akhirnya melibas juga kepercayaan terhadap Pemerintah,
dan mencpai puncaknya saat presiden kedua yang bercokol teramat lama di
singgasananya, tergilas arus reformasi yang dipelopori mahasiswa.
Kejadian
yang seperti ini bukanlah yang pertama di republik yang kita cintai, tetapi
seperti merupakan ualangan dari masa lalu yang terjadi secara periodik, seiring
berputarnya roda kehidupan. Akankah ini merupakn yang terakhir dan dijamin tidak
terjadi ualangan yang sama di masa-masa yang akan datang?
MMasa Lalu I
Melengok ke masa lalu, mulai dari merdeka sampai saat-saat terakhir
pemerintahan Bung Besar. Presiden pertama republik ini namun meletakan
jabatannya karena atas nama ketidak percayaan pemilik negeri tehadap
kepemimpinannya, diikuti sikap pelucutan sikap politik, ajaran dan pemikiran
sebangsanya yang tiba-tiba berubah menjadi barang najis yang harus dijauhi.
Bung Karno dan segala berbau Penyambung Lidah Rakyat dikubur dalam-dalam di tanah
air yang diproklamirkannya.
Nama dan jasa Pemimpin Besar Revormasi dalam membidani kelahiran Ibu
Pertiwi dan menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara berakhir tragis
di tangan bangsanya sendiri. Bahkan karena ualh segelintir orang memanipulasi
sejarah dan memutarbalikkan fakta untuk kepentingan pribadi dan golongannya.
Bapak Bangsa ini hanya dikenal sebagai generasi pewarisnya sebagai
proklamator bersama Bung Hatta, dan tidak lain tidak bukan hanya seonggok
makhluk tua penyakitan tidak beradaya tetapi penuh ambisi, tak tahu malu. Semua terlihat jelas dalam film ”Penghianatan
G 30 S/PKI” yang wajib diputar semua stasiun televisi dalam negeri, setahun
sekali.
Putera Fajar yang akhirnya diakui juga oleh penggantinya sebagai Penggali
Pencasila dasar negara negeri yang diproklamirkannya, terpatri dengan kekuasaan
yang penuh korupsi, kesewenang-wenangan, ambisi pribadi dan sgala kebobrokan
yang lain.
Adegium lama mengingatkan ”Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati
meninggalkan nama”. Namun akibat kesan yang serba salah dan negatif itu maka mendengar namanya saja sudah sulit
didapat sekarang ini, kecuali Soekarno sebagai bagian dari Dwi Tunggal bersama
Proklamator Bung Hatta. Universitas Bung Karno berubah menjadi Universitas
Pancasila dan banyak lagi usaha penghapusan yang dilakukan pada saat penguasaan
baru memproklamasikan Orde Baru dan mengutuk habis-habisan masa lalu yang
dinamakannya Orde Lama.
Masa Lalu II
Pengalaman masa lalu yang dianggap salah dan negatif oleh Orde Baru. Orde
Baru konsisten dengan ke-Baru-annya dan berusaha memberi pelajaran berharga
dalam menjalankan perputaran roda
pemerintahan negeri ini ke arah yang lebih baik. Segala yang berbau Orde Lama dihancurkan,
kalau masih diperlukan maka diganti dengan yang baru.
Begitulah kenyataannya, perbaikan dan kemajuan pembangunan seprti selalu
digembar-gemborkan corong negara tercapai di segala bidang. Kesetabilan politik dan keamanan tidak
diragukan tercipta diseluruh penjuru plosok tanah air. Masyarakat adil dan makmur tercapai sudah.
Semua merupakan wujud nyata dari koreksi terhadap kesalahan masa lalu, katanya.
Disamping perubahan-perubahan kearah yang lebih baik, ada juga yang berubah
wujud bak macan berbulu ayam, nyata-nyata tidak pas tetapi dipaskan. Presiden
seumur hidup gaya MPRS diproklamirkan sebagai presiden seumur-umur,
pembreidelan partai berubah menjadi fusi partai yang akhirnya disertai
penyusupan calon jadi pemimpin baru. Belum lagi korupsi, kolusi dan nepotisme
yang sedemikian rapih bak mahluk halus sehingga tak kasat mata. Tidak dapat
dipungkiri kalau semua itu juga, merupakan manifestasi dari belajar kepada
kegagalan Orde Lama.
Jadi kesimpulan sementara, yang namanya orde baru itu sama saja atau setali
tiga uang alias sami mawon dengan segala borok yang dituduhkannya kepada masa
lalu. Seperti menelan ludah yang sudah dibuang.
Dilihat dari kejatuhannya pun tidak berbeda nyata, sama-sama berasal dari
krisis perut naik ke kepala menghasilkan ketidakpercayaan. Seakan ada memandang
keruntuhan Bung Karno lebih terhormat, karena sebelum meletakkan jabatan sudah
mempertanggungjawabkannya kepada mandat dengan Jasmerah yang akhirnya menjadi
lampu merah bagi dua windu kekuasaannya. Lebih parah lagi, lengsernya Pak Harto
diikuti penjarahan dan gugatan harta pribadi dan keluarga yang semua orang tahu
tidak semuanya berasal dari gaji dan penghasilan seorang presiden.
Yang menarik, hal kedua ini tidak terjadi di masa lalu. Padahal kekayaan Sang Arsitek bercecer
disepanjang jalan. Tidak ada masa yang menjarah huruf alif raksaksa di Masjid
Istiqlal, memboyong patung pemuda ke rumah atau mimindahkan air mancur
menari-nari ke halaman tempat tinggal pribadi, bahkan puluhan kilogram emas di
Monumen Nasional tidak dilirik.
Kepergian Pak Harto dari singgasana juga diusir oleh kadernya sendiri,
orang-orang yang sebelumnya matur dan nutur untuk dapat duduk dikursi dewan
yang terhormat. Puncak pimpinan yang secara resmi memaklumatkan
ketidakpercayaan masyarakat atas kepemimpinannya juga tidak lain dari orang
yang semula dimomong dan ditimang-timangnya.
Barisan strategis yang telah disusun sedemikian rupa porak-poranda pada
akhir kekuasaannya. Berubah haluan, berbalik menyerang. Tidak sedikit yang
tanpa malu-malu menjadi Pahlawan Kesiangan menyalamatkan diri dan berkoar,
mencaci-maki. Padahal saat beliau
berkuasa, mereka bertekuk lutut jadi penurut yang selalu manggur-manggut dan
rajin berdzikir, ”Inggih, Inggih, Inggih !”
Senasib dengan orator ulang yang digantikannya, kepergian Anak Desa dengan
diikuti pengikis habisan segala bentuk dari yang berbau Soeharto. Semua dikubur
dalam tumpukan jutaan lembar kertas-kertas pidato yang pernah dibacakannya.
Masa Kini
Reformasi total, mengoreksi segala yang diwariskan Bapak Pembangunan. KKN
yang sudah membudaya dari tingkat pusat sampai ke RT, bahkan mencemari
organisasi kecil sekalipun baik yang berhubungan dengan pemerintah maupun
tidak, kebebasan yang terkekang atas nama demi kestabilan politik dan keamanan
negara dengan penciptaan Undang Undang dan peraturan dan masih banyak lagi
PR-PR lain yang harus dikerjakan Pemegang Tampuk Pimpinan Masa Reformasi kalau tidak mau
didepak karena krisis kepercayaan berikutnya.
Tidak dapat dipungkiri banyak yang berubah pasca puncak aksi reformasi,
angin kebebasan mulai berhembus. Partai-partai baru tumbuh subur bak cendawan
di musim hujan. Mulai organisasi tua seperti Kosgoro, NU, Muhammadiyah dan
saudara-saudara se-jaman-nya sampai kepada partai yang tidak bisa dilepaskan
dari munculnya koreksi terhadap Orde Baru seperti PUDI.
Yang sangat memprihatinkan justru
mulnculnya partai-parti yang diproklamirkan oleh para Pahlawan Kesiangan yang sebenarnya hanya mendomleng momentuk
reformasi padahal, sama sekali tidak ikut andil dan bisa jadi anti reformasi
itu sendiri. Bahkan ditengah kebutaan generasi muda tentang Proklamator bangsanya, muncul pula
partai-partai yang berusaha memunculkan ajaran-ajaran beliau......Sang Marhaen.
Kegamangan generasi muda akan politik yang merupakan wujud nyata
keberhasilan kurikulum sekolah ciptaan Orde Lama. Ironisnya dimanfaatkan menjadi ajang pesta
partai yang lebih banyak menyorti keadaan politik yang sangat menarik sebab di
sanalah tersebunyi harapan dan ambisi.
Sementara krisis ekonomi tetap dibiarkan menjadi tontonan, sekali-sekali
menjadi materi pidato yang enak untuk diucapkan. Padahal, akan jadi seperti apa
bangsa ini kalau dikendalikan oleh orang-orang yang terus menari-nari di atas
penderitaan rakyat, dengan dalih atas nama reformasi. Tidak mengherankan kalau keadaan yang
dihasilkan hanyalah repot-nasi.
Retrospeksi kedua masa sebelumnya, tanpa belajar yang sebenar-benarnya dan
mengambil pelajaran dari masa lalu maka Ibu Pertiwi akan kembali menangis
karena putra bangsa yang sangat sedikit wawasan politiknya dan rakyat jelata
yang merupakan kebanyakan anak-anak yang dilahirkannya hanya akan menjadi
benteng nyawa bagi kenyamanan cita-cita para Pahlawan Kesiangan yang penuh
semboyan. NATO,
No Action Talk Only. Keadaan masa lalu yang dulu dikutuk. kembali terbentuk.
Clifford
Ceertz tahun tujuh puluhan mengungkapakan pendapatnya tentang Orde Lama dimana
dikatakanya bahwa Indonesia selalu tersandung dari satu sisitem ke sistem yang
lainnya. Tetapi raun-raun tanpa ujung kejelasan ujungnya atau dikatakannya
sebagai ”A State Manque” yang berarti suatu keadaan negara dimana aspirasi politiknya
hanya bolak-balik dari satu sistem kesistem yang lain tetapi semuannya tak
kunjung tercapai.
Bagaimana tidak, kenangan Orde Lama yang selama empat windu dikubur
sekarang dibangkitkan lagi dengan segala pujian kefair-annya dalam menjalankan
kehidupan berbangsa dan bernegara. Akankah itu benar-benar terjadi? Hal ini
tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan untuk yang selalu mengutuk Si Terpuruk,
memuja penguasa atau akan berkuasa dan mengenang masa lalu yang tidak pernah
dialami langsung, sebagai sesuatu yang lebih indah indah dari segalanya.
Tidak menutup kemungkinan Orde Baru yang sekarang dihajat habis-habisan
pada saat ini juga akan menjadi barang berharga penuh pujaan disuatusaat nanti,
dipasca reformasi? Akankah terus bolak-balik seperti ini? Tanpa ujung pangkal
yang jelas dan mantap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar