Demo, demo, semua harus diselesaikan dengan
aksi massa. Benarkah ?
Setelah aksi mahasiswa dengan aksi demo-demonya yang tanpa diduga
sebelumnya dapat menggulingkan pemerintah Orde Baru yang bercokol begitu lama
dan tertata secara profesional maka seperti biasa kita jadi latah, seakan-akan
segala sesuatu harus diselesaikan dengan yang namanya aksi masa, demo.
Demonstrasi menjadi kunci sukses dari segala upaya.
Tidak ketinggalan para sopir AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi) jurusan
Padang Batusangkar yang beberapa minggu yang lalu juga menggelar unjuk gigi.
Mulai dari mogok mengangkut penumpang yang notabene menjadi sumber hidup dari
mereka sendiri, aksi yang agak seram (Menjadi lebih ngeri karena dibesar-besarkan
oleh yang mengucapkan) terhadap partner bisnis yang untuk sementara dianggap
musuh sampai pamer poster yang isinya tidak pantas sama sekali dibaca siapapun
apalagi bapak-bapak yang notabene sedang diminta fungsi perlindungan oleh
mereka.
Semua pembaca pasti tahu, masalah yang jadi momok adalah adanya bus ANS
yang melayani trayek Padang-Batusangkar. Padahal bagi sebagian pembaca, yang
sebagian besar tidak lain adalah konsumen AKDP tersebut, kehadiran ANS justru
bak Dewa Penolong dari segala kelebihan yang selama ini ada dalam pelayanan
YANTI, APB dan SOVIA. Yaitu kelebihan penumpang sehingga berjejal-jejal bak
pindah hidup karena masih berkeringat, kelebihan waktu untuk menempuh dua kota
yang jaraknya cuma 110 km, kelebihan perlakuan, mulai dari para calo yang
merajai terminal sampai oknum awak bus yang kadang-kadang lupa mengontrol
ucapan saat meminta ongkos ataupun dengan penuh kuasa menurunkan penumpang yang
tiba-tiba harus menjadi tidak berdaya ditengah jalan karena cuma numpang sampai
Padangpanjang karena banyak penumpang ke Padang banyak yang belum terangkut
misalnya, dan beberapa kelebihan lain yang selama ini menjadi rahasia antara
penumpang saja karena tidak ada alternatif lain kecuali tetap menjadi
penumpang!
Kelebihan-kelebihan inilah menjadi bahan-bahan celotehan yang banyak
dibicarakan sekalipun ada juga yang mendukung aksi mereka karena katanya- Batusangkar
belum siap menerima oto gadang.
Supir-supir jurusan lain, Bukitinggi-Batusangkar misalnya tidak semua setuju
aksi mereka. Ada yang menganggap merugikan diri sendiri karena dengan mogok
otomastis pemasukan uang untuk dapur juga macet, ada yang menuduh mereka
sebagai biang keladi perpecahan persahabatan atau bahkan persahabatan antar
awak angkutan disamping ada juga menganggap aksi mereka sangat positif untuk
kehidupan di kota Batusangkar yang mereka anggap terlalu dini memasuki
perusahaan bus bonafide.
Adapun tanggapan yang ada dan dari siapapun datangnya serta bagaimanapun
akibatnya baik terhadap penumpang langganan ataupun pengusaha beserta awak busnya, yang jelas,
penikmat untung besardari seminggu mogoknya AKDP Batusangkar – Padang adalah
siapa lagi kalau bukan pengusaha travel yang kebanjiran pemesan.
Dari poster yang masih pantas dibaca, misalnya KAMI BELUM SIAP BERSAING,
sesungguhnya harus dibaca lagi oleh para demonstrasi itu sendiri. Terus
bertanya- lahi-lagi bertanya pada diri sendiri,”Kapan bis a
bersaing?” Tetapi sebelum menjawab coba berfikir dulu. ”Sejak kapan sich kamu
belum siap bersaing?” Tentu saja sudah terlalu lama dan masih sangat lama untuk
bisa bersaing serta tidak akan mampu untuk berival. Karena selama ini tidak ada
upaya untuk berbenah diri. Dari hari ke hari, dari minggu ke minggu bahkan dari
tahun ketahun pelayanan seperti itu-itu juga. Penumpang itu, penumpang yang sekedar
menumpang, penguasanya adalah yang menjalankan bus, para awak bus yang tentu
saja dibawah kendali pemiliknya.
Jadi, penumpang sebagai orang yang cuma nebeng harus pasrah dan tunduk pada
aturan mereka. Suatu konsep pemasaran yang sangat lama sudah harus ditinggalkan
karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Konsumen adalah Raja,
pepatah yang belaku sekarang. Bukan pengusaha yang raja. Sekaya-kayanya seorang
pengusaha dia adalah seorang hamba, yang mengumpulkan sekeping demi sekeping pemberian
dari sng majikannya bukan pengusaha itu sendiri tetapi Sang Raja, sedangkan
Sang Raja itu adalah konsumen dalam konteks ini adalah penumpang yang sudah
seharusnyalah mendapat pelayanan layaknya sebagai seorang raja setidaknya
pelayanan yang patut bagi orang yang turut memberikan kehidupan bagi nyala api
dapur pemilik angkutan.
Terlalu lamanya bercokol menguasi pelayanan penumpang Batusangkar-Padang
menyebabkan pengusaha dan awak bus terlena, lalai mendudukkan penumpang sebagai
orang yang penting bagi mereka. Sehingga pelayanan jadi sangat memprihatinkan
YANTI menjadi angkutan YA N TIdak (baca: Ya end Tidak) alias ya klo mau numpang
dan tidak perlu naik kalau tidak mau alias tidak ada pilihan lain di APB
penumpangpun sikut kanan sikut kiri, berjejel-jejel mencari celah dibawah
ketiak tetengga seperti dalam Angkutan Petai dan Bengkuang dan perjalanan
seratus kilo meter lebih menjadi perjalanan yang memakan waktu lama, jauh dari
janji-janji calo dan awak bus akan secepatnya pergi dan cepat mencapai tujuan
SOVIA (Baca: SOk VIA (lewat) tol.
Nah, kalau sudah demikian parah pelayanan yang diberikan apa tidak salah
mengapa mereka berdemo yang katanya menuntut keadilan? Sebab yang seharusnya
berdemonstrasi adalah para penumpang yang selama ini manut terus dengan
perlakuan awak bus. Apakah para pengusaha dan awak bus tidak pernah berfikir
bakal didemo penumpang yang merasa tidak mendapat pelayanan yang layak senilai
dengan uang yang mereka bayarkan?.
Di akhir tulisan ini, tak ada salahnya kita petik beberapa hikmah dari
masuknya ANS ke kota Budaya, antara lain membangun para pengusaha dan awak bus
yang telah terlalu lama terlelap dalam tidur panajng dalam melayani penumpang
serta membuka mata penumpang itu sendiri akan pentingnya nilai uang yang harus
dibayar awak bus dengan waktu tempuh dan kenyamanan sekalipun uang tidak selalu
dapat membeli semu itu. Yang lebih penting adalah membuka jalinan promosi kota
kita ke luar daerah yang akan sangat mudah di lakukan ANS via cetak karcis
misalnya, bahwa Sumatera ada kota Batusangkar. Karena sekalipun pusat Kerajaan
Minangkabau berpusat disini, jarang yang tahu kecuali pusat Kerajaan
Minangkabau ya....di Pagaruyung yang ada di Ranah Minang di Provinsi Sumatra
Barat sekarang.
Tidak lupa ada ajakan untuk para pengusaha dan awaknya mari berbenah diri.
Kapan lagi, sebab bila tidak akan mengahadapi tantangan zaman yang makin
menggelebu jangankan bersaing dengan yang lebih dahulu memasuki pasar luas
seperti ANS misalnya, bila terus menerus jalan ditemapat akan sangat beruntung
kalau cuma ditinggalkan teman tanpa terinjak-injak. Dan demo bukanlah selalu
menjadi cara yang baik untuk mencapai tujuan. Apalagi disrtai dengan
poster-poster yang nadanya menjatuhkan martabat orang yang mau diminta
bantuannya coba kita renungkan bersama, bagaimana kalau anak kita minta
dibelikan speaker tapi dia maki-maki kita dulu sebelumnya. Kira-kira kita mau
kasih uang? Jangan-jangan malah dengan speaker itu ia makin galak mencaci maki.
Lantas bagaimana caranya? Layani penumang dengan sebaik-baiknya. Manfaatkan
potensi yang ada, jalan Padang-Batusangkar yang berkelok dan sempit misalnya.
Bukankah jalan yang demikian menguntungkan AKDP untuk berlenggak-lenggok
memamerkan kelincahan tubuh mungilnya? Dengan demikian waktu tempuhpun akan
menjadi lebih pendek. Suatu keunggulan tersendiri. Bukankah masyarakat sekarang
makin menyadari pentingnya ketepatan waktu? Asalkan jangan sampai keunggulan
ini dinodai sendiri dengan menambah waktu untuk ngatem dan maju mundur di
terminal misalnya.
Kehadiran ANS bukanlah monster yang siap menerkap AKDP tetapi mitra
berusaha yang sangat baik. ANS memang datang dengan banyak keunggulan tetapi
bukan berarti tanpa kelemahan, sama seperti AKDP yang tidak selalu penuh
kekurangan. AKDP dan ANS bisa saling melengkapi. Penumpang yang ingin santai
diperjalanan bisa pilih ANS namun kalau memburu waktu AKDP bisa jadi pilihan
untuk mengejarnya.
Semua tergantung kepada pengusaha dan awak bus AKDP sendiri. Yang jelas,
sebagai penumpang, kami tidak akan meninggalkan kamu kalau kamu tidak meningalkan
kami. Selamat berbenah dan semoga sukses!
Tulisan ini dibuat sebagai bukti rasa persaudaraan penulis terhadap
saudara-saudara kami pengusaha awak bus di Ranah Minang, dimana kita harus
saling mengingatkan karena pada dasarnya kita saling membutuhkan. Kalau ada
saran dan sumbang yang menyengat mohon maaf dengan penuh rasa hormat.
Catatan :
Nama Perusahaan Bus/Oto di Ranah Minang :
ANS = Aman Nyaman Sampai tujuan
APB = Angkutan Penumpang dan Barang (anak perusahaan NPM = Naikilah Perusahaan Minang)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar