Tulisan 1997-an
nich,
mengomentari tentag
iklan film seronok yang terpampang setiap hari di koran-koran lokal.
Dimuat di KABA LUHAK
NAN TUO kebanggaan kami ....
RAMADHAN kemarin
yang baru saja berlalu meninggalkan kesan tersendiri, betapa kita sangat mudah
menilai pihak lain sementara pula menilai perilaku sendiri. Dikaitkan dengan
hari Pers Nasional yang juga diperingati
beberapa hari setelah lebaran, maka pers yang kita cintai (Alhamdulillah tidak
termasuk KABA LUHAK NAN TUO) kebanyakan adalah pemasang iklan film yang
melakukan hal yang sangat di sayangkan tersebut. Oleh karena itu ulasan ini
hanyalah merupakan media pengingat yang mudah-mudahan bisa mengingatkan yang
masih ingat kalau saat itu memang benar-benar tidak ingat dan tentu saja perlu
diingatkan tetapi tidak ada yang mengingatkan.
Sandra Bulloc tersenyum manis dalam
peluk Chirs O’Donnel. Ia mencuri pandang
dengan kedipan matanya yang menantang, in the war they found each other… in
each other they found love…. Jodie Foster pun
tak mau ketinggalan, dalam Nell-nya dia berpose seronok.
Sementara itu ’orang-orang
kita’ yang mengaku selalu lebih bersih, benar-benar bersih tubuhnya dari
pakaian yang layak-untuk gembel di kolong langit sekalipun. Dan sebagaimana
biasa, sebagai daya tarik film-film tanpa teks (terjemahan resmi) judulnya
selalu mengajak yang shaum, ”Batalin yo, Da!”
Mulai dari bisikan nafsu yang membangkitkan keliaran tak pelak lagi bisa
menimbulkan gairah terlarang. Kalau
sudah begitu selingkuh jadi jalan keluar. Tidak heran kalau akhirnya menjamur
Jaringan Terlarang yang memproduksi para Gigolo...!
Perut. Masih sekitar perlut dan
poster-poster itupun di buat demi perut-perut pengolah kanvas, produser plus
yang perutnya digambar dan banyak lagi perut
perut lain, termasuk orang orang koran yang mengemas poster-poster dalam
bentuk kecil sehingga dapat makin menerobos masuk melanglangbuana kemana perut
sesukahati.
Sucinya ramadhan sekarang
kemarin pun diwarnai panasnya dapur KFC dan CFC disiang bolong. Memang, survey membuktikan... secara akal
sehat, memang harus panas kalau ayam goreng yang dihasilkan ingin renyah!
Lagi-lagi ajakan, ”Batalin dong Nii”.
Perut, terus-terusan nich
bilang perut... Dan maaf, banyak kata kata ’perut’tertulis disini karena
tulisan ini juga dibuat demi perut!
Dua nasib perut boleh berbeda.
Perut cewek cantik yang sebagaimana terjadi sekarang sepertinya aman-aman saja,
sekalipun tempatnya lebih memohok dan menyolok mata seperti di tempat keramaian
umum plus embel-embel agar menimbulkan rasa iba bintangnya dijadikan melarat
dengan bagian tertutup koran bekas yang sudah koyak. Dan batal puasa Ramadhan
karena perut yang satu ini sangat berat sanksinya, sekalipun harus menggantinya
dengan 60 hari puasa atau memberi makan 60 rang miskin ! Tidak perlu dibahas kalau dengan yang nggak
sah.....sementara penggoda batal yang lain, yang kalau dilanggar setiap hari
sekalipun,sanksinya maksimal 50% dari sekali pelanggaran diatas.
Koran-koran lokal saat ini
ramai memberitakan bahwa dengan dalih pariwisata bersih maka dengan wibawanya
Pak Wako Padang memojokkan tempat-temat yang enak untuk mojok ini. Rupanya
keliru, ”Pariwisata bukan untuk perut...!”
Perut yang ditarik oleh para
pengusaha waralaba pun sebenarnya tidak sembarang perut, hanya perut-perut
tertentu. Misalnya perut yang selalu senang sembunyi dibalik kemudi mobil
pribadi pada Ramadhan. Awas yang plat
merah jangan coba-coba! Nol koma sekian
permilnya pangsa pasar perut liarnya Kiki Fatmala dan manusiawat-nmanusiawati
seprofensinya yang lain.yang bisa dinikmati oleh semua orang berbola mata, dari
anak balita sampai kakek-kakek balita juga (baik,lincah,tampan,jujur dan
gagah), dan ya.. menggoda! Seolah olah menimbukan tanya, ”Perut ko, untuk
pariwisata?”
Slogan atau mungkin jargon atau
bahkan semboyan untuk menghormati yang berpuasa dan sejenisnya yang sampai ada
terpasang didepan sebuah gereja (Maaf lho, kalau boleh berbagi pengalaman anak
asrama, yang paling doyan mengabungin kita dipagi yang dingin untuk shalat
shubuh juga saudara kita yang katolik/protestan!) dan lain-lain termasuk himbauan,
peraturan dan program pemerintah seolah-olah hanya disentuhkan keperut ayamnya
KFC dan CFC, yang sekali lagi amat terbatasi! Mungkin sudah saatnya Chintami
yang gak doyan mi juga dikasih tahu tentang semua itu, kalau bisa sementara
puasa ini, gimana kalau rapih-rapih sebelum keluar. Soalnya yang melihat haruus
tutup mata dengan lima jari...yang terbuka!
Tidak keliru kalau ditengok
juga tinggalan Pujangga Lama, ”Semut diseberang lautan tampak sedangkan gajah
dipelupuk mata tidak terlihat. ” Itu saja
sebabnya maka berkaitan dengan kedua perut diatas untuk insan pers dapat
diplesetkan menjadi, ” Perut ayam tercincang tenggelam dalam minyak kelam
dibalik kaca hitam tampak, perut para bintang nempel di halaman koran gak
kelihatan.” Yang lain lain tinggal
menyesuaikan.
Sebaagai akhir dari tulisan
ini, tidak salah kalau sma sama kita interopeksi. Apakah nasib dua perut diatas
yang begitu bertolak belakang diperlukan media masa sudah merupakan indikasi
pola pikir masyarakat kita yang sudah cenderung maklum kalau perut untuk
pariwisata? Tetapi tidak pariwisata
untuk perut. Mungkin sudah saatnya perut
perut tersebut - karena sama sama perut
diperlakukan sebagaimana perut layaknya.
Sebagai akhir yang paling
akhir, ada sebait puisi karya pujangga yang tidak mau disebut sebagai Pujangga
karena tidak ada alasan untuk menjadi sebagai Pujangga’
Kalau perut ayam dilarang
Gimana perut para bintang
Yang sering taruh pakaian
tempat sembarang
Padahal suka lupa kalau sudah
asyik di kolam renang
Akhirnya tak tahu diambil orang
Biasanya kegemaran para bujang
Jadinya ya gitu dech,
ditelan......jang!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar